Kontak Perkasa Futures – Berbisnis Tanpa Berutang

KONTAK PERKASA FUTURES YOGYAKARTA - Sebuah perusahaan properti yang saat ini tengah menggarap proyek Best western condotel Yogyakarta, Majestic Residence Yogyakarta, Villa Nua Ubud Bali dan beberapa proyek besar lainnya.

“Saya mengikuti jalurnya orang kaya-kaya yang bermain di properti. Donald Trump dan Ciputra, misalnya. Saya sendiri punya impian membuat perusahaan yang tidak hanya membuat kaya diri sendiri, tetapi juga membuat kaya orang lain,” ujar pria kelahiran Mojokerto, 15 Maret 1983 ini.

Meski terbilang pedatang baru di industri properti, Majectic Land yang berdiri sejak 2011 lalu sudah diperhitungkan. Maklum gebrakannya luar biasa. Proyek yang dibangunnya bukan proyek kecil.

Catat saja, proyek Condominium Hotel (condotel) Budget Service dengan fasilitas 144 kamar di bangunan lima lantai di Jalan Adisucipto KM 4 Janti Depok Sleman Yogyakarta yang menelan investasi hingga RP 100 miliar.

Pembangunan condotel ini menempati area seluas 1,230 hektar dengan harga Rp360 juta hingga Rp1,2 miliar perunit. Condotel ini ditawarkan dengan kemudahan investasi dan pilihan pembayaran angsuran hingga kredit kepemilikan apartemen.

Itu baru condotel, belum lagi sederet perumahan yang tengah dibangun. Antara lain Perumahan Nyaman Sendang Sari dan Majectic Residence Banguntapan.

Di Bali, Majectic Land juga tengah menggarap Villa Nua yang merupakan villa premium berjumlah 14 unit di atas lahan seluas 1 hektar.

Investasi yang ditanamkan sekitar Rp 75 miliar dan ditargetkan di akhir 2014 akan groundbreaking. Villa Nua sendiri semula akan dibangun sebanyak 36 villa, namun saat hunting lokasi, Wisnu bertemu orang Jerman, yang bilang tak akan memilih vila yang ramai.

Para turis justru memilih villa yang tak banyak penghuni untuk menjaga ketenangannya. Maka Wisnu pun memutuskan hanya membangun 14 villa saja di Ubud, Bali.

“Kami memang fokus menggarap yang tel-tel, yakni condotel, villatel, dan hospital. Nantinya kami akan menggarap rumah sakit. Kami juga berencana membangun condotel di Jalan Setiabudi, Bandung. Saat ini masih dalam proses membebas lahannya,” cerita Wisnu.

Jatuh Bangun

Diakui Wisnu, ketika memulai bisnis pertama kali, dia tak langsung melirik properti. Saat itu selepas SMA, dia mencoba melamar pekerjaan di banyak perusahaan.

Sayang, lamarannya tak satupun yang nyangkut. Akhirnya, Wisnu nekat membangun usaha. Ketika itu, dia malah tertarik menjadi dealer motor pada 2003.

Bisnis dealer motornya tak bertahan lama, hanya dua tahun saja. “Mungkin karena waktu itu saya masih muda dan pengalaman belum banyak, jadinya usaha saya jatuh,” ujarnya.

Tak pantang menyerah, Wisnu mendirikan usaha lain. Saat itu, bisnis warung internet alias warnet tengah tumbuh subur. Tapi warnet miliknya tak berkembang sesuai harapan.

Akhirnya Wisnu banting setir mendirikan bisnis rental kendaraan. “Namanya juga pengusaha, jatuh bangun sudah biasa.

Yang penting saat jatuh, kita harus bisa bangkit lagi. Buat saya yang namanya bangkrut adalah pelajaran berharga, jika tidak mungkin saya tidak akan seperti sekarang.”

Berawal dari satu mobil, lambat laun bertambah hingga mencapai 60 mobil. Semua mobil dalam kondisi baru. “Itu mobil saya semua, bukan titipan.

Dari dulu, saya lebih suka mengelola milik pribadi. Saya tertarik dengan rental mobil, karena saat itu sedang booming,” kata pria yang menghabis waktu senggangnya dengan menyanyi sebagai salah satu cara menghilangkan stress.

Meski terbilang sukses dengan rental mobilnya. Wisnu mengangap apa yang dicapainya hanya bisa dinikmati sendiri tanpa orang lain ikut serta.

Dari hasil membaca setumpuk buku dan artikel, dia berpikir tak ada orang kaya yang berangkat dari bisnis rental mobil. Tetapi, umumnya berangkat dari bisnis properti.

“Kok, nggak ada orang kaya dari bisnis rental, bagaimana bisa saya mewujudkan mimpi saya membuat masjid yang banyak.”

Akhirnya setelah berembuk dengan sang istri, Wisnu menjual bisnis rentalnya, padahal usaha itu sedang maju – majunya.

Tak perlu waktu lama, dia lalu mendirikan Majectic Land dengan modal awal berkisar Rp 60 miliar. “Ini bisnis kita bangun dengan modal sendiri dan kami menghindari hutang ke bank atau ke siapapun juga,” aku pria yang sangat mengagumi Ciputra ini.

Alasannya simpel saja. Cerita Wisnu, “Kalau kami menggunakan dana bank, tentu dikenakan bunga. Saya menghindari riba.

Daripada bunga kita berikan kepada bank, lebih baik kita berikan kepada konsumen, investor, atau siapapun. Karena itu kami memasang strategi dengan program-program yang sulit diikuti oleh pesaing.”

Meski sukses sudah berada digenggam, Wisnu menganggap apa yang diperolehnya belum seberapa. Masih banyak obsesi dan goal dalam hidup yang ingin dicapainya.

Dalam goalnya, Wisnu berharap bisa menjadi market leader di pasar properti Indonesia dengan 20 proyek dalam waktu tiga tahun dan dalam waktu lima tahun menjadi market leader di pasar properti di ASIA dengan 50 proyek – KONTAK PERKASA FUTURES

Sumber : inilah.com