KONTAK PERKASA FUTURES YOGYAKARTA – Menjelang Hari Raya Idul Fitri, BI mengimbau masyarakat untuk mewaspadai beredarnya uang palsu alias upal. Dengan memanfaatkan berbagai kelemahan yang ada, pengedar upal bisa leluasa mengedarkannya. Mereka biasanya memanfaatkan pengetahuan minim dari warga.

Biasanya para pengedar memang menggunakan tangan masyarakat untuk mengedarkan uang mereka. Menyasar ke kampung-kampung atau ke pasar tradisional, dimana pengetahuan masyarakat akan uang palsu masih minim. Modus yang mereka gunakan adalah dengan membeli produk di pasar tradisional.

Sampai pertengahan Juni dan memasuki bulan Ramadhan ini, Bank Indonesia menyatakan belum ada laporan peningkatan penemuan uang palsu. Dari temuan sebelumnya, biasanya laporan paling banyak diterima di bank-bank di luar Yogyakarta, seperti Kota Magelang dan kota-kota kecil lainnya.

Di Yogyakarta, jumlah upal masih minim dan masih kalah bila dibandingkan dengan yang berasal dari luar Kota Gudeg. Sampai dengan bulan Mei 2016 lewat, BI menyatakan telah mengamankan 1.372 lembar uang palsu. Upal tersebut mulai dari lembaran Rp10.000 hingga Rp100.000 dengan nilai total lebih dari Rp100 juta.

Data BI Yogyakarta menyatakan upal lembaran Rp100.000 yang diamankan pada Januari lalu sebanyak 147 lembar, Februari 169 lembar, Maret 148 lembar, April 136 lembar dan Mei lalu terdapat 179 lembar. Adapun pecahan Rp50.000 uang palsu yang diamankan pada Januari sebanyak 111 lembar, Februari 160 lembar, Maret 107 lembar, April 73 lembar, dan Mei 130 lembar.

Peredaran uang palsu tersebut memang mengancam pasar-pasar tradisional. Seorang pedagang tempe di pasar Beringharjo, Yogyakarta, mengaku sudah tiga kali mendapatkan uang palsu. Terakhir ia mendapatkan beberapa pekan yang lalu. Ia tidak bisa berbuat banyak selain hanya menerima keapesannya sebagai rezeki yang belum menjadi haknya – KONTAKPERKASA FUTURES

http://ekbis.sindonews.com/read/