KONTAK PERKASA FUTURES –¬†Investasi pasar modal memerlukan pengetahuan akan pergerakan pasar dan kondisi ekonomi suatu negara yang akan memengaruhi hasil investasi tersebut. Tanpa manajemen resiko yang baik, pelaku investasi akan cenderung membuat keputusan keliru. Atau, kalaupun ada resiko membuat kekeliruan, langkah pengendalian faktor resiko akan membantu menurunkan tingkat kerugian sehingga tidak ada penyesalan di kemudian hari ketika perhitungan yang dilakukan ternyata keliru.

Akan tetapi, walaupun para investor bisa jadi sudah memelajari semua hal yang sebaiknya mereka pelajari sebelum terjun ke bidang pasar modal, ada hal-hal yang kurang diperhitungkan namun ternyata berpotensi menjadi penghalang dalam membuat keputusan yang paling tepat terkait investasi pasar modal, yaitu faktor emosi.

 

Dorongan Emosi dan Kecemasan dalam Investasi

Salah satu keputusan keliru yang kerap diambil para pelaku investasi pasar modal akibat tidak adanya manajemen resiko yang matang adalah keputusan membeli atau menjual yang terlalu terburu-buru yang tidak berdasarkan logika serta perhitungan matang, melainkan lebih karena emosi takut atau terlau rakus ingin meraih keuntungan besar. Hal ini biasanya diwujudkan dalam keputusan serampangan untuk membeli saham yang nampak sangat murah atau malah terburu-buru menjual semua sahamnya saat mendengar suatu isu bisnis atau ekonomi yang belum tentu benar.

Keputusan yang terburu-buru dalam bisnis pasar modal dapat mengakibatkan kerugian besar, terutama jika menyangkut penjualan saham. Jika Anda, misalnya, menjual semua saham Anda dengan harga murah akibat rasa takut akan suatu isu bisnis, ekonomi dan politik, Anda akan menyesal ketika menyadari bahwa isu tersebut ternyata tak beralasan dan kondisi pasar modal masih cenderung stabil. ketika situasi sudah aman kembali, Anda pun baru tahu bahwa keputusan yang Anda ambil ternyata keliru dan Anda berakhir dengan kerugian.

Kebanyakan langkah manajemen resiko yang disarankan pada para pelaku pasar modal tidak membidik faktor emosi, padahal faktor emosi inilah yang sering mendorong para investor mengambil keputusan gegabah serta terburu-buru. Kita tidak bisa sepenuhnya mengendalikan faktor emosi, terutama ketika dihadapkan pada situasi yang memang penuh ketidakpastian seperti adanya suatu isu yang akan memengaruhi situasi dan kondisi keuangan suatu negara.

 

Sistem Manajemen Resiko Otomatis

Sistem manajemen resiko otomatis kini diterapkan oleh beberapa pengelola pasar saham untuk membantu investor mengendalikan aset mereka dan tidak mudah membuat keputusan sembrono menyangkut saham yang dimiliki. Dengan sistem yang sifatnya otomatis, investasi sang investor akan dikelola oleh sistem yang secara otomatis menerapkan langkah manajemen resiko ketika membaca pola pergerakan pasar saham. Ini akan mencegah investor mengambil keputusan gegabah terkait aset yang dimilikinya.

Salah satu sistem otomatis yang sudah dikembangkan adalah Auto Risk Management System, disingkat ARMS. Sistem ini pertama dikembangkan oleh Asuransi Generali Indonesia untuk melayani nasabah yang mengambil paket asuransi beserta investasi, agar bisa terlindung dari resiko akibat mengambil keputusan secara gegabah dalam investasi.

Sistem ini dirancang untuk hanya selalu melakukan langkah penanggulangan resiko ketika membaca pola tertentu yang menandakan pergerakan harga dan nilai saham di pasar modal, bukan semata emosi sesaat yang belum tentu didasari logika. Investor pun bisa menyerahkan langkah manajemen resiko kepada sistem agar emosinya tidak mengganggu potensi keuntungan investasinya.

Misalnya, sistem ARMS akan otomatis memberitahu si investor apakah ia sebaiknya menguangkan keuntungannya atau keluar dulu dari sistem. Hal ini dilakukan dengan cara memantau pergerakan nilai pasar saham. Dengan demikian, investor tidak akan membeli, menjual atau menutup posisi berdasarkan ketakutan dan emosi sesaat, melainkan karena pembacaan sistem. Jadi, keputusan yang diambil tak akan beresiko tinggi.