5 Fakta Bus Tronton di Indonesia – Kontak Perkasa Futures

Kontak Perkasa Futures – Seiring berkembangnya infrastruktur jalan tol di Indonesia, industri transportasi darat pun ikut bertumbuh. Salah satu buktinya adalah digunakannya bus tronton sebagai armada oleh banyak perusahaan otobus (PO) di Indonesia.
Bagi yang belum tahu, bus tronton merujuk pada istilah kendaraan tiga axle (sumbu). Bus ini lebih panjang 1,5 meter dibanding bus-bus regular. Selain itu, bus tronton juga bisa mengadopsi berbagai jenis bodi bus, dari bodi high decker hingga double decker.

Berikut rangkumam 5 fakta bus tronton yang ada di Indonesia, dari mulai alasan mengapa bus ini diminati, harga bus tronton, hingga salah kaprah soal penyebutan bus tronton.

1. Kelebihan Bus Tronton sehingga Diminati Banyak PO

Dengan sumbu atau gandar yang lebih banyak dari bus regular, bus tronton memiliki dimensi lebih panjang dan bisa dibuat lebih tinggi, sehingga bisa untuk menampung penumpang dan barang dalam jumlah lebih banyak.

“(Dari segi dimensi) lebih panjang dan kalau untuk dipasang bodi dia bodinya relatif lebih tinggi, jadi kapasitas bagasinya lebih ekstra. Kalau bus standar kan panjangnya sekitar 12 meter, kalau ini (bus tronton) di 13,5 meter,” kata Bus and Coach Consultant Laksana, Lang Widya Praba Wasista.

Sasis tronton juga punya keunggulan lain, yakni fleksibilitas dalam mengadopsi berbagai platform bodi, mulai dari bodi high decker seperti XHD (Xtra High Decker) atau UHD (Ultra High Decker), hingga bus double decker alias bus tingkat.

Keunggulan lain, bus tronton memiliki performa andal untuk melibas rute tol panjang seperti tol Trans Jawa. Sebagai perbandingan, bus regular memiliki kapasitas mesin antara 6.800cc-7.000cc, sedangkan bus tronton punya kapasitas mesin antara 11.000cc sampai 13.000cc.

2. Fungsi Ban Belakang Bus Tronton

Bus tronton memiliki tiga sumbu roda dan ban berjumlah 8, dengan konfigurasi 1.1, 2.2, 1.1. Menurut Bus and Coach Consultant Laksana, Lang Widya Praba Wasista, ban bus tronton paling belakang berfungsi untuk menopang sasis dan untuk membantu proses manuver.

“Jadi dia berfungsi sebagai penopang mesin. Karena dia sasisnya lebih panjang dan (ban) paling belakang ini dia bisa bergerak untuk menjadi kemudi. Jadi kalau roda depan belok kiri, maka roda belakang akan mengikuti radiusnya bergerak ke kanan, jadi dia bisa meminimalisir radius putar. Sehingga, meski unitnya (bus tronton) lebih panjang 1,5 meter dari yang regular, dia sudut tikungnya lebih kecil, karena diimbangi dengan roda yang di belakang itu tadi,” kata Lang Widya.

Sebagai contoh, sasis bus tronton Mercedes-Benz OC 500 RF 2542 yang memiliki panjang 13,5 meter (versi karoseri), memiliki radius putar 11,9 meter atau hanya selisih sekitar 1,6 meter jika dibandingkan dengan total panjangnya.

Sementara bus regular seperti Mercedes-Benz OH 1626, yang punya panjang 12 meter (versi karoseri), punya radius putar hingga 9,44 meter, atau ada selisih mencapai 2,56 meter jika dibandingkan dengan panjang keseluruhan.

Bus tronton PO SAN buatan karoseri LaksanaBus tronton PO SAN buatan karoseri Laksana Foto: Laksana
3. Merek-merek Bus Tronton yang Ada di Indonesia

Bus tronton digunakan sebagai armada bus kota seperti bus Transjakarta dan digunakan pula sebagai armada bus AKAP (Antar Kota Antar Provinsi). Ada empat merek bus tronton yang dijual di Indonesia, yakni Mercedes-Benz OC 500 RF 2542, Scania K410iB, Volvo B11R, dan MAN R37.

Di Indonesia sendiri ada beberapa karoseri yang bisa membuat bodi bus untuk sasis tronton, salah satunya adalah Laksana. Laksana sudah memproduksi berbagai bus dengan sasis tronton.

“Banyak ya. Paling terakhir kemarin kayak Sudiro Tungga Jaya, terus ada SAN, Putra Pelangi Perkasa dari Banda Aceh itu. Terus ada 10 unit (bus tingkat) yang ekspor ke Bangladesh,” ujar Bus and Coach Consultant Laksana, Lang Widya Praba Wasista.

Tak hanya membuat bodi bus tronton untuk bus AKAP, Laksana juga dikenal sebagai pembuat bodi bus milik PT Transjakarta. “Transjakarta, boleh dibilang 90 persen itu produksinya Laksana. Terutama yang Scania sama Volvo itu 100 persen buatan Laksana semua. Ada yang pakai sasis tronton ada yang pakai articulated, yang bus gandeng itu. Nama bodinya sendiri Cityline 2,” terang Lang Widya.

4. Harga Bus Tronton

Harga bus tronton tidak murah, banderolnya bisa tembus Rp 3 miliar-Rp 4 miliar, tergantung spek dan jenis bodi yang digunakan. Ada beberapa merek bus tronton yang dipasarkan di Indonesia. Mulai Mercedes-Benz OC 500 RF 2542, Scania K410iB, Volvo B11R, hingga MAN R37.

“Soal harga, sasistronton iturentangnya di Rp 1,7 miliar. Naik turun di situ, ada yang di Rp 1,680 miliar ada yang di Rp 1,780 miliar gitu. Itu baru sasisnya aja ya,” ujar Bus and Coach Consultant Laksana, Lang Widya Praba Wasista.

Sementara untuk harga bodi, kursi, dan AC-nya juga tak kalah mahal. Harga bodinya sendiri tembus setengah miliar rupiah, sedangkan untuk joknya per buah bisa berharga mencapai Rp 7 juta.

“Kalau bodi dan interior di Laksana–belum termasuk jok dan AC– itu kurang lebih Rp 600 juta. Itu bodinya aja ya, belum jok dan AC, karena kalau jok itu kan ibaratnya sofa, jadi tergantung keinginannya si pemilik bus nanti mau diisi berapa banyak dan modelnya yang seperti apa. Karena sekarang kan harga bangku di kisaran paling standar itu Rp 1,8 juta sampai yang paling mahal itu Rp 7 juta per bangkunya,” sambung pria yang akrab disapa Lek Lang.

“Kalau dibuat general kalau satu unit jadi itu sekitar Rp 2,6 miliar. Sudah komplet dengan AC dan joknya yang tipe menengah,” tambahnya lagi.

Perusahaan Otobus (PO) Putera Mulya baru saja meluncurkan layanan Bus Trans Jawa, di Pulogebang Jakarta Timur, Kamis (14/2). Bus ini mampu melaju 120 km/jam di jalan Tol.Bus tingkat PO Putera Mulya Foto: Agung Pambudhy
5. Salah Kaprah Penyebutan Bus Tronton

Di Indonesia, bus dengan tiga axle atau sumbu kerap disebut sebagai bus tronton. Padahal istilah tersebut sebenarnya keliru. Bus tiga axle lebih tepat disebut sebagai bus trintin.

Diungkapkan oleh Bus and Coach Consultant Laksana, Lang Widya Praba Wasista, di istilah internasional bus tronton itu disebut sebagai twin axle karena gandar belakangnya ganda, sumbunya dua di belakang. Namun secara teknis itu adalah triple axle atau bus tiga sumbu.

Lalu apa yang membedakan tronton dan trintin? Kendaraan tronton sendiri sebenarnya juga memiliki tiga sumbu seperti bus trintin. Bedanya, tiga sumbu tronton memiliki total roda 10 buah, dengan konfigurasi 1.1, 2.2, dan 2.2. Ini lazim ditemui pada kendaraan panjang seperti truk kontainer.

Sementara pada bus tiga axle yang beredar di Indonesia, umumnya dibekali roda sebanyak 8 buah, dengan konfigurasi 1.1, 2.2, dan 1.1. Roda paling belakang bisa dibelokkan untuk membantu bus trintin bermanuver, dengan cara meminimalisasi radius putar.

“Kalau di bus ini kan dia di roda penggerak double, sedangkan di belakangnya kan dia single. Jadi dia berfungsi sebagai penopang mesin aja, karena dia sasisnya lebih panjang dan yang (axle) paling belakang ini bisa bergerak untuk menjadi kemudi. Jadi kalau roda depan belok kiri, roda belakang ini nanti dia akan mengikuti radiusnya bergerak ke kanan, jadi bisa meminimalisir radius putar. Meskipun unitnya lebih panjang 1,5 meter dari yang regular, dia sudut tikungnya lebih kecil, karena diimbangi dengan roda trintin yang di belakang itu tadi,” kata Lang Widya. – Kontak Perkasa Futures

Sumber : detik.com