Indonesia Gemar Belanja Online – Kontak Perkasa Futures

Kontak Perkasa Futures, Yogyakarta – Dalam kurang lebih tiga tahun terakhir, geliat perusahaan e-commerce di Indonesia semakin terlihat. Sebagai salah satu pelakunya, JD.ID menyadari betul hal tersebut dan bertekad untuk membuat pembeda dengan perusahaan serupa yang ada di Tanah Air. Seperti diungkapkan Head of Corporate Communications & Public Affairs, Teddy Arifianto, masyarakat dinilai mulai gemar berbelanja secara daring.

“Sudah kelihatan sekarang ini orang mulai sadar, e-commerce itu tidak sekadar cari diskon tapi lebih kepada mencari kenyamanan. Enggak perlu kemana-mana. Saya lihat enggak cuma JD.ID saja, semua e-commerce sudah melihat ke arah situ juga. Orang lebih ingin ada pengalaman tersendiri dalam online shopping,” kata Teddy seusai acara “JD.ID Celebrating Festivity 2017” di Pullman Hotel.

Karenanya, perusahaan e-commerce tidak cukup hanya mengandalkan kepercayaan semata. “Di e-commerce itu, antara trust dan service ibarat telur sama ayam, jadi mana duluan. Ada orang beli service-nya dulu baru trust, ada juga yang trust dulu baru beli service-nya. Tapi pada akhirnya akan sama, siklusnya akan terus berputar seperti itu,” ucap Teddy.

Sementara itu, Ketua Umum Asosiasi e-Commerce Indonesia (idEA) Aulia E. Marinto juga mengatakan keinginan masyarakat Indonesia saat ini dalam berbelanja secara daring yang semakin besar. “Tingkat permintaannya makin tinggi, makin menyukai, makin ingin bertransaksi lebih banyak. Ini kelihatan kok dalam dua sampai tiga tahun terakhir,” ujarnya.

Aulia sendiri menuturkan para pelaku e-commerce saat ini berada pada posisi yang hampir sama. Oleh karena itu, peluang untuk berkembang menjadi semakin besar terbuka lebar bagi semua industri e-commerce di Indonesia. “Misal ada yang transaksinya sudah sekian, tapi dengan besarnya potensi di Indonesia angka segitu belum apa-apa. Artinya, semua punya peluang untuk menjadi pemenang. Karena nama-nama pemain di industri e-commerce kita ini semuanya baru pemula,” kata Aulia yang juga CEO dari Blanja.com tersebut.

Dengan besarnya populasi masyarakat Indonesia saat ini, Aulia tidak heran kalau ada beragam perusahaan e-commerce yang bermunculan. “Populasi kita ada 250 juta-an. Sebanyak 150 juta lebih orang sudah ada di bank, mereka punya buku tabungan. Pemerintah punya gagasan 100 juta sisanya yang tidak punya rekening di bank itu agar menggunakan produk-produk yang bisa tidak pakai buku tabungan. Itu memberikan perusahaan e-commerce di Indonesia optimisme yang tinggi,” ucapnya.

Menurut Aulia, pemerintah sendiri telah turut andil dalam perkembangan industri e-commerce. Salah satunya dengan mengeluarkan peta jalan (roadmap) industri e-commerce yang tertuang dalam paket kebijakan ekonomi jilid-14. “Di dalamnya terdapat poin safe harbor policy, yang mana itu membuktikan kerja sama yang erat antara pelaku industri dengan pemerintah. Dimana kita kemudian mendapatkan perlindungan dengan dasar hukum,” kata Aulia.

“Khususnya bagi pemain marketplace, kalau Anda melakukan listing sebuah produk, tapi ternyata listing tersebut menyalahi undang-undang, Anda enggak serta-merta menjadi tertuduh. Itu adalah salah satu perwujudan safe harbor policy,” tambahnya.

Pemerintah rupanya juga mengacu pada fakta bahwa Indonesia merupakan salah satu pengguna internet terbesar di dunia. Di samping, menjadikan Indonesia sebagai negara digital ekonomi terbesar di Asia Tenggara pada 2020.

Menurut perkiraan lembaga riset pasar e-Marketeer, populasi pengguna internet di Indonesia pada 2017 bakal mencapai 112 juta orang. Peningkatan tersebut terbilang cukup signifikan, pasalnya pada 2014 lalu e-Marketeer mengeluarkan hasil riset mereka yang menyatakan jumlah pengguna internet sebanyak 83,7 juta orang.

“Oleh sebab itu, potensi tersebut harus dimanfaatkan,” ujar Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution pada 10 November 2016 lalu di Istana Kepresidenan – Kontak Perkasa Futures

Sumber:tirto