Kontak Perkasa Futures | Cerita Bulan yang Bikin Gila

Kontak Perkasa Futures – Fabel dan mitos mencoba menjelaskan efek bulan yang seolah membuat para satwa seperti gila, semisal anjing yang melolong terus-menerus. Sejauh ini, hanya sedikit laporan ilmiah yang mengupas masalah itu, tapi kini sejumlah ilmuwan menemukan bagaimana siklus bulan mempengaruhi perilaku binatang lewat sebuah kajian komprehensif.

Review itu juga menunjukkan bahwa polusi cahaya dari lampu-lampu kota, yang dapat menghalangi sebagian cahaya bulan, mungkin telah mengganggu pola alami yang diasosiasikan dengan bulan. Orang yang percaya bahwa bulan dapat memicu anjing melolong, mungkin akan kecewa jika tahu bahwa banyak binatang menyesuaikan perilakunya sebagai respons terhadap perubahan tingkat cahaya dan pasang-surut air laut, bukannya hal berbau supernatural.

Meski demikian, beberapa binatang masih tetap mengikuti jam circadian misterius yang dikendalikan oleh siklus bulan, seperti laporan tim peneliti di jurnal Proceedings of the Royal Society B. “Bulan mungkin bertindak sebagai petunjuk sinkronisasi di antara individu, sebagai sebuah petunjuk bagi parameter lingkungan lain, seperti ketersediaan pangan dan pasang-surut, atau sekadar membuat binatang bisa menggunakan penglihatannya di malam hari,” kata Noga Kronfeld-Schor, ahli biologi di Tel Aviv University, yang terlibat dalam laporan itu.

“Perilaku yang dipengaruhi oleh bulan sangat luas dan beragam, dimulai dari proses jangka panjang, seperti waktu untuk berkembang biak dan migrasi.”

Untuk memahami efek cahaya bulan terhadap binatang nokturnal yang aktif di malam hari, tim itu membagi beragam efek tersebut ke dalam beberapa kategori: reproduksi, komunikasi, dan proses mencari makan atau memangsa. Salah satu perilaku paling aneh yang mereka pantau adalah peristiwa pemijahan massal yang dipicu oleh bulan setiap Desember di Great Barrier Reef, Australia.

Setiap tahun, ratusan spesies koral memijah secara bersama-sama. Berbagai faktor lingkungan, seperti temperatur, salinitas, dan ketersediaan pangan, berkontribusi terhadap waktu terjadinya peristiwa tersebut, tapi level cahaya bulan tampaknya menjadi pemicu utama. Ketika cahaya bulan tepat, ratusan koral akan melepas sperma dan telurnya secara sinkron, yang meningkatkan peluang terjadinya pembuahan. – Kontak Perkasa Futures

Sumber: Tempo.co