Gajah Mada Tidak Segagah Patungnya – Kontak Perkasa Futures

Kontak Perkasa Futures – Sosok Mahapatih Gajah Mada selama ini dikenali dari bentuk patung berciri wajah tegas dengan pipi bengkak. Belakangan, perawakan Gajah Mada yang itu mengalami perubahan sesuai selera pasar saat ini.

Tidak seragamnya penggambaran sosok Gajah Mada itu mengusik penulis buku Fakta Mengejutkan: Majapahit Kerajaan Islam Herman Sinung Janutama. Ia menyatakan, sosok Gajah Mada itu harus diteliti lagi karena jelas berbeda dengan temuannya di sejumlah naskah kuno.

“Gajah Mada yang diajukan Mohammad Yamin ditolak, karena gemuk-lah, terlalu ini-lah. Ini kan bukan lagi bagaimana data, tapi bagaimana selera yang ganteng dong. Maka kemudian di Pendopo Agung Mojokerto, dilihat Gajah Mada ya, gagah gitu porsinya ideal. Semua tangannya, bahunya, anatomi pas,” ujarnya saat ditemui .

Herman mengatakan melihat idealisasi sosok Gajah Mada sampai saat ini terkesan mengikuti Eropa, mulai dari struktur badan, perbandingan tangan dengan kaki, serta wajah. Namun, standarisasi ala Eropa itu tidak bisa dibiarkan karena sosok Gajah Mada yang sebenarnya tertulis dalam dalam beberapa manuskrip.

“Manuskrip yang menggambarkan Patih Gajah Mada misalnya, Hang Tuah, Hang Lekir, Hang Jebat itu menceritakan perjumpaan dengan Mahapatih Gajah Mada. Mereka latihan perang-perangan, bercanda, bergurau, saling bertukar ilmu dan kesaktian, itu digambarkan. Tapi apakah kita pernah mengkaji Gajah Mada dari Hang Tuah, bukunya tebal sekali,” ujarnya.

Herman menjelaskan sosok Gajah Mada juga dapat dilihat dalam buku Babad Majapahit empat jilid dan setiap jilidnya terdiri dari seribu halaman. Ada pula penyebutan nama Gajah Mada, tetapi tidak pernah menyinggung sumber internal tentang sosok Gajah Mada. Sementara, para filolog dunia seperti De Graaf dan Andersen tidak membahas sosok Gajah Mada ini.

“Wajah panjang tirus itu menyakitkan. Gajah Mada itu bukan lagi punya kita,” ujarnya.

Sosok Mahapatih Gajah Mada juga digambarkan dalam kitab dari Kerajaan Kutai, yaitu Brojoniti. Dalam kitab itu digambarkan bagaimana para Sultan Kutai bertemu dengan Mahapatih Gajah Mada.

Sosok aslinya, ucap dia, didefinisikan tidak berbeda jauh dengan orang Melayu Nusantara saat ini. Patih Gajah Mada memiliki badan kecil, kurus dan hitam, tetapi kebutuhan ikon publik harus gagah, ganteng, dan tidak memalukan.

“Orangnya kecil, tidak terlalu tinggi, badannya kurus, tidak gemuk. Dalam naskah itu disebutkan, kadang-kadang kalah tidak begitu sakti. Coba bagaimana, kita mau yang real begitu atau yang ikonik?” ujarnya – Kontak Perkasa Futures
Sumber:regional.liputan6