Menyemai Karakter Peduli Lingkungan – Kontak Perkasa Futures

Kontak Perkasa Futures – Greta Thunberg dinobatkan sebagai Ambassador of Conscience 2019 oleh Amnesty International pada 19 September lalu. Kegigihannya dalam mendesak pemerintah dan politisi untuk memutuskan kebijakan yang tepat terkait dengan permasalahan perubahan iklim di dunia,dianggap memberi pengaruh besar pada gerakan lingkungan untuk perubahan iklim. Gadis belia asal Swedia itu diberi kesempatan membuka KTT Pemuda PBB Pertama Tentang Perubahan Iklim pada 23 September di New York.

Di saat Greta konsisten menyuarakan penyelamatan bumi dan perubahan iklim dunia, di Tanah Air dihadapkan pada kondisi yang jauh berbeda. Indonesia kini menjadi sorotan berbagai negara akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Sampai dengan hari ini, karhutla di beberapa provinsi belum juga mereda.

Bencana kebakaran yang diduga memiliki ratusan titik panas itu mengakibatkan berbagai masalah. Selain mencemarkan udara dan memusnahkan flora dan fauna, masyarakat yang tinggal dan hidup di kawasan tersebut seakan tercekik kepungan asap yang menghambat aktivitas sehari-hari mereka, seperti bekerja dan bersekolah. Tak jarang berujung pada gangguan kesehatan, seperti ISPA dan lainnya. Dampak asap juga menghambat jalannya roda ekonomi.

Pun tiap kali karhutla terjadi, generasi belia kita adalah tumbalnya. Universitas Harvard menyebutkan dalam penelitiannya, jika karhutla terus terjadi, akan berakibat pada 36 ribu kematian dini. Petaka yang sudah terjadi pun dijelaskan dalam sebuah studi di Jurnal PNAS, bahwa akibat karhutla pada 1997, anak yang lahir pada masa itu menderita stunting. Mereka lebih pendek sekitar 3,3 sentimeter dari anak lainnya yang tidak terpapar dampak karhutla.

Selain karhutla yang berulang terjadi, Indonesia mempunyai banyak sekali permasalahan terhadap kerusakan alam dan lingkungan. Pencemaran lingkungan, baik di darat maupun di air oleh sampah saat ini sudah mencapai taraf darurat. Bahkan, Indonesia menduduki peringkat kedua penyumbang sampah terbesar di dunia setelah China.

Berkebalikan dari Swedia, tempat Greta berasal, yang merupakan negara penghasil sampah terkecil di dunia. Negara Skandinavia ini telah melakukan konsep Waste to Energy (WTE), atau pengolahan limbah untuk diubah menjadi energi. Seluruh sampah diolah melalui proses pembakaran kemudian panas yang dihasilkan dari proses ini diubah menjadi energi listrik yang di salurkan ke seluruh negeri. Dan gas metan yang dihasilkan digunakan untuk memasak dan menjadi penghangat ruangan. Jadi, kita perlu belajar dari negara Greta berasal soal pentingnya penyelamatan bumi.

Krisis ekologi yang mendominasi kita saat ini bermuara dari cara pandang manusia yang melihat alam sebagai objek untuk dikaji, dianalisis, dimanipulasi, direkayasa, bahkan dieksploitasi sedapat mungkin. Jika paradigma itu terus dibiarkan, cita-cita mengembangkan masyarakat yang berkelanjutan dan ramah lingkungan hanyalah mimpi belaka serta alam akan terus digerus dengan semena-mena.

Membangun Kesadaran

Maka, menjadi penting membangun kesadaran masyarakat untuk melestarikan lingkungan sekitar dan tidak mengeksploitasinya secara berlebihan. Penanaman, pemahaman, dan kesadaran tentang pentingnya menjaga kelestarian kualitas lingkungan sangat baik apabila mulai diterapkan melalui pendidikan. Karena itu, sekolah sebagai lembaga pendidikan formal harus bertindak dan tidak boleh berdiam diri menyaksikan alam yang semakin kritis akibat ulah manusia sendiri.

Melalui pendidikan karakter yang disemai di sekolah kita menaruh harapan besar untuk pelestarian lingkungan Indonesia ke depan. Karakter peduli lingkungan harus ditanamkan pada peserta didik agar mengkristal menjadi kebiasaan baik yang akan terus dibawa sampai dewasa nanti. Sikap peduli lingkungan yang terus diupayakan dapat menjaga dan mencegah kerusakan lingkungan serta memperbaiki kerusakan alam yang telah terjadi.

Penyemaian karakter peduli lingkungan membutuhkan komitmen kepala sekolah dan guru yang menjadikan sekolahnya sebagai laboratorium pendidikan lingkungan. Dengan harapan, jika peserta didik menjalani kesehariannya dengan pembiasaan kepedulian terhadap lingkungan, maka karakter cinta lingkungan akan mengakar pada dirinya sejak dini.

Beberapa upaya yang bisa dilakukan sekolah secara nyata peduli terhadap lingkungan. Di antaranya adalah dimulai dari pengkondisian lingkungan sekolah yang bersih, nyaman, dan asri. Ini dengan penataan bangunan sekolah yang rapi, peruntukan pemanfaatan lahan jelas, pohon pelindung hijau, taman sekolah indah, tidak dijumpai air tergenang, tidak ada sampah yang berserakan, ada kantin sehat, serta suasana sekolah bersih dan sejuk. Kondisi sekolah yang demikian akan mampu menciptakan budaya bersih, sehat, dan cinta lingkungan kepada peserta didik.

Kemudian pengembangan kurikulum yang berwawasan lingkungan diintegrasikan dalam setiap mata pelajaran. Pembelajarannya selalu mengaitkan tema lingkungan sebagai sumber belajar. Harapannya, siswa memiliki kesadaran lingkungan yang terwujud melalui perilaku ramah lingkungan untuk meningkatkan kualitas hidup.

Sekolah bisa mengundang pihak-pihak eksternal, aktivis, atau lembaga yang peduli lingkungan untuk menjadi influencer para siswa untuk peduli lingkungan. Dengan harapan edukasi yang diimbaskan akan memberikan dampak pada munculnya program-program sederhana yang mampu dilaksanakan seluruh warga sekolah. Mulai dari pembiasaan membuang sampah pada tempatnya, memilah sampah, lomba tamanisasi dan kebersihan kelas hingga upaya pengurangan sampah melalui gerakan tanpa plastik, sedotan, dan juga membawa botol minum dan kotak makanan dari rumah.

Keteladanan mulai dari orangtua di rumah, guru, tokoh masyarakat, dan juga para pemimpin sangat diperlukan. Akhir kata, jangan malu belajar dari bocah yang bernama Greta Thunberg dalam rangka menjaga kelestarian alam Indonesia yang semakin terkikis. – Kontak Perkasa Futures

Sumber : detik.com