Sudirman Said Menyerang – Kontak Perkasa Futures

Kontak Perkasa Futures – Mantan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Sudirman Said mengungkap pertemuan rahasia Presiden Joko Widodo (Jokowi) dengan James Robert (Jim Bob) Moffet. Menurut Sudirman pertemuan terjadi pada Oktober 2015 dan saat itu Moffet menjabat sebagai Executive Chairman Freeport McMoRan, induk PT Freeport Indonesia (PTFI).

Sudirman yang kini menjabat sebagai Direktur Materi dan Debat Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo Subianto-Sandiaga Uno menyinggung pertemuan rahasia itu. Menurutnya, karena pertemuan rahasia tersebut paket deal divestasi saham PTFI itu tak sepenuhnya menguntungkan Indonesia.

Pemerintahan Presiden Joko Widodo pun angkat bicara merespon cerita yang diungkapkan Sudirman Said.

Sudirman Said menceritakan kronologis dikuasainya saham Freeport Indonesia sebesar 51 persen. Dia menyatakan paket deal saham itu tak sepenuhnya menguntungkan Indonesia.

Bermula pada 7 Oktober 2015, saat itu Sudirman yang masih menjabat sebagai Menteri ESDM dipanggil mendadak oleh Presiden Joko Widodo di Istana Negara. Ketika dia sampai di Istana, dia diberi tahu oleh asisten Presiden bahwa tidak ada pertemuan, namun dia tetap diperintahkan menghadap Presiden.

Singkat cerita, sesampainya dia di ruangan kerja Jokowi, Sudirman melihat ada Jim Moffett, yang kala itu menjabat sebagai Executive Chairman Freeport McMoRan, sedang mengadakan pertemuan dengan Jokowi. Di sana Sudirman diperintahkan Jokowi untuk membuat draft mengenai kesepakatan pembelian saham.

“Dan tidak panjang lebar, Presiden hanya katakan ‘tolong siapkan surat, seperti yang dibutuhkan, kira-kira kita ini ingin menjaga keberlangsungan investasi lah’, nanti dibicarakan setelah pertemuan ini, ‘baik pak Presiden’. Maka keluarlah saya bersama Pak Jim Moffett ke suatu tempat,” ujar Sudirman di acara bedah buku bertajuk ‘Satu Dekade Nasionalisme Pertambangan’ di Jalan Adityawarman, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.

Sesampainya di sebuah tempat, Moffett menyodorkan draf kesepakatan. Menurut Sudirman, draf itu tidak menguntungkan Indonesia.

“Pak Moffet sodorkan draft, kira-kira surat yang dibutuhkan seperti itu. Saya bilang sama Moffet ‘this is not the way i do business, kalau saya ikuti draft-mu, maka yang akan ada Presiden negara didikte korporasi’. Saya tidak lakukan itu, ‘yout tell me what we have been discussed with president’, dan saya akan buat draft yang lindungi kepentingan republik’,” kata Sudirman seraya menirukan perkataannya kepada Moffett.

Kemudian setelah pertemuan dengan Moffett, Sudirman langsung menyampaikan draft tersebut kepada Jokowi. Menurut Sudirman, saat itu Jokowi disebut langsung menyetujui, padahal menurut Sudirman draf tersebut hanya menguntungkan pihak Freeport bukan Indonesia.

“Bapak dan Ibu tahu komentarnya pak presiden apa? dia mengatakan ‘lho kok begini saja sudah mau? Kalau mau lebih kuat lagi sebetulnya diberi saja’. Jadi mungkin saja ketika pagi itu, saya nggak ikut diskusi, saya datang tulis surat, dan saya nggak tahu sebelum pertemuan itu ada siapa. Jadi saya disuruh nulis surat dengan level ini aman, nggak merusak. Tapi pak Presiden bilang ‘kok begini nggak mau’, jadi mungkin tanggal 7 itu mungkin sudah ada komitmen yang lebih kuat, yang dikatakan surat itu perkuat posisi mereka, dan lemahkan posisi kita,” ungkap Sudirman.

Sudirman menilai pertemuan antara Jokowi-Moffett itu bukanlah pertemuan normal layaknya pertemuan biasa. Sebab, setelah draft tersebut disetujui Jokowi, angka saham Amerika naik.

“Dan saya paham itu bukan pertemuan normal. Tetapi dari segi hukum saya rasa dapat proteksi dari kepala biro hukum saya dan sekjen. Itulah cerita surat itu,” tutur Sudirman.

Presiden sekaligus calon presiden petahana Joko Widodo juga ikut merespon kisah yang dilontarkan Sudirman Said. Jokowi menepis cerita mantan anak buahnya yang mengatakan ada ‘pertemuan rahasia’ antara dirinya dengan bos PTFI pada 2015.

“Nggak sekali dua kali ketemu. Gimana sih, kok diam-diam? Ya Ketemu bolak balik, nggak ketemu sekali dua kali,” kata Jokowi setelah memberikan pembekalan saksi untuk TPS di Èl Hotel Royale, Kelapa Gading, Jakarta Utara.

Pertemuan itu berlangsung pada tahun 2015. Saat itu, Jokowi mengatakan, pertemuan membahas perpanjangan izin operasi Freeport.

“Ya perpanjangan, dia kan minta perpanjangan. Pertemuan bolak-balik memang yang diminta perpanjangan, terus apa?” ujar Jokowi.

Sudirman Said menilai pertemuan antara Jokowi dengan eks Executive Chairman Freeport McMoRan James ‘Jim’ Moffet bukanlah pertemuan normal layaknya pertemuan biasa. Jokowi mengatakan bahwa pertemuan berlangsung intens.

“Diam-diam gimana? pertemuan bolak-balik. Kalau pertemuan pasti ngomong nggak diam diaman. Ada ada saja. Ya biasa lah. Ketemu dengan pengusaha ya biasa saja, ketemu konglomerat biasa saja, ketemu yang sekarang biasa saja,” sebutnya.

Hingga pada akhirnya, Indonesia memiliki 51 persen saham PT Freeport. Proses divestasi saham itu berlangsung bertahun-tahun.

“Ya kita ini kan diminta untuk perpanjangan, diminta untuk, tapi sejak awal saya sampaikan, bahwa kita memiliki keinginan itu, masa nggak boleh?” ucap Jokowi.

Presiden sekaligus calon presiden petahana Joko Widodo juga ikut merespon kisah yang dilontarkan Sudirman Said. Jokowi menepis cerita mantan anak buahnya yang mengatakan ada ‘pertemuan rahasia’ antara dirinya dengan bos PTFI pada 2015.

“Nggak sekali dua kali ketemu. Gimana sih, kok diam-diam? Ya Ketemu bolak balik, nggak ketemu sekali dua kali,” kata Jokowi setelah memberikan pembekalan saksi untuk TPS di Èl Hotel Royale, Kelapa Gading, Jakarta Utara.

Pertemuan itu berlangsung pada tahun 2015. Saat itu, Jokowi mengatakan, pertemuan membahas perpanjangan izin operasi Freeport.

“Ya perpanjangan, dia kan minta perpanjangan. Pertemuan bolak-balik memang yang diminta perpanjangan, terus apa?” ujar Jokowi.

Sudirman Said menilai pertemuan antara Jokowi dengan eks Executive Chairman Freeport McMoRan James ‘Jim’ Moffet bukanlah pertemuan normal layaknya pertemuan biasa. Jokowi mengatakan bahwa pertemuan berlangsung intens.

“Diam-diam gimana? pertemuan bolak-balik. Kalau pertemuan pasti ngomong nggak diam diaman. Ada ada saja. Ya biasa lah. Ketemu dengan pengusaha ya biasa saja, ketemu konglomerat biasa saja, ketemu yang sekarang biasa saja,” sebutnya.

Hingga pada akhirnya, Indonesia memiliki 51 persen saham PT Freeport. Proses divestasi saham itu berlangsung bertahun-tahun.

“Ya kita ini kan diminta untuk perpanjangan, diminta untuk, tapi sejak awal saya sampaikan, bahwa kita memiliki keinginan itu, masa nggak boleh?” ucap Jokowi. – Kontak Perkasa Futures

Sumber : detik.com