Goldman : Emas Bisa ke US$ 1.600/oz! – PT Kontak Perkasa Futures

PT Kontak Perkasa Futures – Harga emas global masih mempertahankan penguatan memasuki perdagangan sesi Amerika Serikat (AS)  melanjutkan kenaikan Senin kemarin.

Meski demikian kenaikan masih tipis-tipis saja dan rentang pergerakannya juga tidak besar, memberikan gambaran pelaku pasar masih wait and see perkembangan isu-isu terkini.

Senin kemarin, emas berhasil menguat 0,16% dan bergerak di rentang US$ 1.458,45-1.465,40/troy ons. Sementara pada hari Selasa (10/12/2019) pukul 20:52 WIB, emas diperdagangkan di level US$ 1,465,73/troy ons, menguat 0,25% di pasar spot, melansir data Refinitv. Rentang perdagangan hari ini US$ 1.459,3-1.467,87/troy ons, tidak jauh berbeda dengan hari Senin.

Jika tidak ada kejutan, misalnya dari perundingan dagang antara Amerika Serikat (AS) dengan China, harga emas masih akan bergerak dalam rentang sempit hingga Rabu besok.

Ada dua faktor yang membuat emas bergerak dalam rentang sempit hingga hari ini dan kemungkinan juga besok. Yang pertama pengumuman kebijakan moneter bank sentral AS (Federal Reserve/The Fed) dan yang kedua perundingan dagang AS-China.

The Fed akan mengumumkan suku bunga pada Kamis (12/12/2019) dini hari WIB. Kali terakhir mengumumkan suku bunga, Gubernur The Fed Jerome Powell mengatakan periode pemangkasan suku bunga sudah berakhir. Suku bunga tidak akan lagi di pangkas, kecuali perekonomian AS memburuk.

Faktanya perekonomian AS memang membaik, yang mengkonfirmasi sikap The Fed tersebut. Data tenaga kerja AS yang dirilis Jumat (6/12/2019) lalu terbilang impresif. Data ini menjadi salah satu acuan The Fed dalam menetapkan suku bunga.

Departemen Tenaga Kerja AS melaporkan sepanjang November perekonomian AS mampu menyerap 266.000 tenaga kerja di luar sektor pertanian (non-farm payroll/NFP).

Angka tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan bulan Oktober sebanyak 156.000 tenaga kerja, dan jauh lebih tinggi dari konsensus Trading Economics sebesar 180.000 tenaga kerja. NFP pada November tersebut juga merupakan yang tertinggi sejak bulan Januari lalu.

Kemudian tingkat pengangguran Negeri Sam yang dilaporkan di 3,5% di bulan November. Tingkat pengangguran tersebut turun dibandingkan bulan Oktober sebesar 3,6%, menyamai catatan di bulan September, dan merupakan yang terendah sejak tahun 1969.

Belum lagi melihat data pertumbuhan ekonomi atau produk domestik bruto (PDB) AS di kuartal III-2019 yang pada pembacaan kedua direvisi menjadi 2,1% dari pembacaan pertama 1,9%. Melihat data tersebut, The Fed sepertinya akan kembali menegaskan tidak akan menurunkan suku bunga lagi, emas berisiko kembali tertekan.

Kemudian perkembangan perundingan AS-China yang berada pada jalur yang bagus. Kedua negara harus menandatangani kesepakatan dagang fase satu sebelum 15 Desember. Hal ini karena AS berencana akan mengenakan bea masuk tambahan importasi produk China jika kesepakatan dagang tidak diteken sampai tanggal tersebut.

Seandainya kedua negara menandatangani kesepakatan dagang di pekan ini, tekanan bagi emas akan semakin besar. Meski dua faktor tersebut akan menekan harga emas, tetapi bank investasi ternama, Goldman Sachc, memprediksi harga emas masih bisa menguat ke depannya.

Goldman mengatakan permintaan investasi emas akan naik akibat kecemasan akan resesi dan ketidakpastian politik. Goldman memprediksi dalam 3-12 bulan ke depan, harga emas diramal mencapai US$ 1.600/troy ons.

Menurut analis Goldman Sachs, Mikhail Sprogis, harga emas masih akan mencapai level US$ 1.600/troy ons meski pertumbuhan ekonomi global membaik. Alasannya ketika perekonomian global bangkit, maka mata uang utama lain juga akan menguat melawan dolar AS. Mata uang emerging market di Asia juga diprediksi menguat melawan greenback.

Harga emas dibanderol dengan dolar AS, ketika mata uang Paman Sam ini melemah maka harga emas akan menjadi lebih murah bagi pemegang mata uang lainnya, efeknya permintaan bisa meningkat. – PT Kontak Perkasa Futures

Sumber : cnbcindonesia.com