Kemeriahan Berebut Pisang dan Uang Koin di Banyuwangi – PT Kontak Perkasa Futures

PT Kontak Perkasa Futures – Masyarakat Banyuwangi turun ke jalan. Mereka berebut pisang dan uang koin saat digelar ritual Barong Ider Bumi. Tua muda hingga anak kecil di Desa Kemiren Kecamatan Glagah, berebut buah pisang yang matang menguning dan uang koin puluhan juta rupiah.

Barong Ider Bumi adalah ritual tolak bala (bencana) yang sudah turun temurun dilakukan warga desa Using (suku lokal setempat) sejak ratusan tahun yang lalu. Ritual ini digelar setiap 2 Syawal, atau lebaran hari kedua. Tradisi ini ditandai dengan mengarak barong mengelilingi desa yang diakhiri dengan kenduri masal oleh warga di sepanjang jalan desa.

Sebelumnya mereka mengiringi kesenian Barong khas Desa atas Kemiren tersebut keliling kampung. Sambil memanjatkan doa agar Desa tak terkena mara bahaya, mereka juga berkesempatan.

Puncaknya, di areal parkir Sanggar Genjah Arum Kemiren, mereka berebut pisang yang disediakan disana. Mereka percaya uang koin dan pisang yang disuguhkan itu membawa berkah tersendiri.

“Pisang ini kita percaya menjadi penambah stamina kita. Setelah satu bulan puasa dan lebaran satu hari kita seperti mendapatkan tenaga kembali untuk melanjutkan hidup dan bertemu Ramadan kembali dan hari raya,” ujar Supri, salah satu warga Kemiren, kepada detikcom, Jumat (7/6/2019).

Selain berebut pisang, anak-anak kecil juga merasakan kebahagiaan di acara ritual ini. Di Sanggar Genjah Arum ini, juga digelar ritual ‘Sembur Utik-utik’. Ritual ini dilakukan dengan cara merebutkan uang koin yang dicampur beras kuning serta bunga. Anak-anak langsung berebut mencari uang yang terjatuh di tanah. Sambil berebut mereka riang gembira, tanpa ada rasa bermusuhan.

“Tadi dapat Rp 150 ribu. Uangnya banyak. Ya tadi sempat kena injak tangan saya. Tapi ya resiko rebutan. Sempat guling-guling tadi juga. Senang sekali kalau ada Sembur Utik-utik,” ujar Slamet Miftahul Huda (14) warga sekitar.

Usai sembur othik-othik, seluruh warga mengarak tiga barong Using yang diyakini bisa mengusir bencana. Tampak Bupati Anas turut berbaur bersama warga dan sesepuh desa mengikuti prosesi selamatan bersih desa tersebut sambil mengendarai kereta kencana menuju sisi barat perbatasan desa.

Bupati Anas mengatakan, Banyuwangi konsisten menjaga tradisi warganya sebagai bentuk mempertahankan kearifan lokal. Anas meyakini bahwa, kearifan lokal yang dibangun para leluhur itu dimaksudkan untuk menjaga keseimbangan alam dan kehidupan warganya.

“Ini adalah cara nguri-nguri budaya yang ditradisikan oleh Banyuwangi. Banyuwangi boleh saja maju, Banyuwangi juga boleh berkembang, tapi budaya Banyuwangi tidak boleh tertinggal dari pergaulan global. Oleh karena itu, sesibuk apapun, kami akan terus menjaga kelestarian budaya, salah satunya lewat balutan festival semacam ini,” tegas Anas saat menghadiri tradisi ini.

Dalam kesempatan itu, Anas juga menyampaikan ucapan terimakasih kepada pemerintah pusat khususnya Menteri Pariwisata RI Arief Yahya yang telah mendukung perkembangan pariwisata Banyuwangi.

“Meski beliau hari ini tidak berada di tengah-tengah kita, namun atas nama warga Banyuwangi kami ucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada Pak Menpar Arief Yahya yang selama ini telah banyak membantu dan memfasilitasi perkembangan pariwisata Banyuwangi. Seperti hari ini, beliau mengirimkan bantuan sound system untuk menunjang kegiatan kesenian di Desa Kemiren. Terima kasih pak menteri,” ucapnya.

Setelah tiba, mereka kembali ke timur batas desa untuk melakukan kenduri massal sebagai puncak sekaligus penutup tradisi tersebut.

Menu kendurinya pun khas masyarakat Using, yakni pecel pitik, berupa suwiran ayam kampung yang dibakar dan dicampur dengan bumbu parutan kelapa. Puluhan tumpeng ‘pecel pitik’ ditata rapi berjajar di sepanjang jalan desa. Masyarakat dan pengunjung pun beramai-ramai melakukan kenduri. Sangat meriah namun tetap sakral. – PT Kontak Perkasa Futures

Sumber : detik.com