Panas Bumi Sarulla – PT Kontak Perkasa Futures

PT Kontak Perkasa Futures – Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Sarulla Unit I yang berlokasi di Sumatera Utara resmi beroperasi secara komersial dengan kapasitas 110 megawatt (MW). Pembangkit yang dioperasikan oleh Sarulla Operations Ltd (SOL) ini menggabungkan teknologi flash dan biner yang menghasilkan pembangkit listrik dengan tingkat efisiensi tinggi dan menginjeksikan kembali 100 persen dari uap panas bumi yang sudah terpakai.

Hal tersebut diumumkan secara resmi oleh Toshiba Corporation dan Ormat Technologies Inc. pada Rabu (22/3/2017). Sebagai salah satu peserta dalam proyek ini, Toshiba menyediakan turbin dan generator uap (STGs) panas bumi untuk sistem flash. Sementara Ormat membuat desain konseptual dari pembangkit listrik tenaga panas bumi unit siklus gabungan (GCCU) dan menyediakan Ormat Energy Converter (OEC), yang berfungsi sebagai unit kondensasi bagi turbin-turbin uap dan memanfaatkan brine terpisah untuk memaksimalkan penggunaan sumber daya dan memaksimalkan daya keluaran.

“Toshiba memiliki pangsa pasar nomor satu di sektor panas bumi. Kami terus mendukung pengembangan solusi listrik dan infrastruktur di Indonesia,” ujar Takao Konishi, Wakil Presiden Toshiba untuk Perusahaan Sistem Energi & Solusi, dalam siaran persnya.

Sebagai informasi, kebutuhan listrik di Indonesia meningkat seiring dengan pembangunan ekonomi yang cepat. Dalam Cetak Biru Energi Nasional 2005-2025, pemerintah mengarah pada diversifikasi bauran energi nasional dan meningkatkan energi yang dihasilkan oleh sumber panas bumi menjadi lebih dari 5 persen dari total kapasitas. Indonesia diperkirakan memiliki sekitar 40 persen dari cadangan energi panas bumi dunia. Karena itu, lanjut Takao, Toshiba dan Ormat akan terus bekerja sama dalam berkontribusi untuk memenuhi permintaannya yang terus meningkat tersebut – PT Kontak Perkasa Futures

CEO Ormat, Isaac Angel mengatakan, dimulainya operasi komersial di Sarulla adalah tonggak penting bagi Ormat, baik sebagai pemilik SOL dan sebagai pemasok teknologi biner yang sudah teruji selama 25 tahun. Menurut dia, kontrak pasokan Sarulla adalah kontrak tunggal terbesar yang telah Ormat tandatangani sampai saat ini.

“Kami memproduksi dan mengirimkan peralatan kami lebih cepat dari jadwal, terutama disebabkan oleh perbaikan-perbaikan yang diimplementasikan di seluruh rantai nilai dan tim profesional kami. Kami terus berbagi keahlian kami sejalan dengan berlanjutnya pekerjaan unit kedua dan ketiga dari proyek Sarulla yang diharapkan dapat beroperasi masing-masing pada 2017 dan 2018,” ujarnya.

Menurut Isaac, teknologi GCCU Ormat yang sudah teruji yang juga dimanfaatkan di proyek Sarulla, akan menjamin pemanfaatan yang optimal dan berkelanjutan dari sumber daya dalam memberikan energi yang bersih, hemat biaya dan kapasitas baseload bagi Indonesia.

Menggenjot Setrum dari Panas Bumi

Seperti dilansir laman ebtke.esdm.go.id, pada awalnya proyek PLTP Sarulla unit I dengan kapasitas 110 MW dijadwalkan beroperasi pada Desember 2016. Sementara untuk pembangkit unit 2 dan 3, dengan kapasitas yang sama akan beroperasi secara bertahap pada 2017 dan 2018.

Total kapasitas dari proyek PLTP Sarulla ini sebesar 330 MW. Berdasarkan data Kementerian ESDM, PLTP Sarulla adalah pembangkit listrik yang terbesar di dalam program Percepatan Pembangunan Pembangkit Listrik 10.000 MW Tahap II, di mana hampir 50 persennya (4952 MW) berasal dari panas bumi.

Di tingkat dunia, PLTP Sarulla termasuk dalam geothermal yang terbesar di dalam single-contract (the world’s largest single-contract geothermal power plant) dan akan sangat mempercepat pencapaian sasaran elektrifikasi di Indonesia – PT Kontak Perkasa Futures

Dalam konteks ini, Indonesia memiliki potensi panas bumi yang cukup besar. Data Kementerian ESDM menunjukkan, potensi yang dimiliki Indonesia sekitar 28,8 hingga 29 giga watt (GW) atau 40 persen dari cadangan dunia. Namun, sampai September 2016 baru mencapai 1.513,5 MW.

Pemanfaatan panas bumi untuk pembangkit listrik di Indonesia memiliki potensi panas bumi yang cukup besar, tapi pemanfataannya masih sangat lamban. Selengkapnya baca: Menyia-nyiakan Potensi Panas Bumi Indonesia.

Pemanfaatan yang kurang optimal tersebut mendorong pemerintah melakukan berbagai upaya agar dapat mengejar ketertinggalan. Sebab, dalam roadmap pengembangan panas bumi ini, pada tahun 2025, pemerintah menargetkan dapat memanfaatkan pembangkit dari PLTP hingga 7.239 MW.

Salah satu upaya yang dilakukan pemerintah adalah berencana memberikan penugasan kepada Badan Usaha Milik Negara (BUMN) untuk melakukan pengembangan panas bumi guna mencapai target pada tahun 2025 nanti. BUMN yang mendapat penugasan tersebut, antara lain PT Perusahaan Listrik Negara (PLN Persero), PT Pertamina (Persero), dan PT Geodipa Energi – PT Kontak Perkasa Futures
Sumber:tirto