Ramadhan Bulan Perdamaian – PT Kontak Perkasa Futures

PT Kontak Perkasa Futures – Sehari sebelum Ramadhan, pasar, mall, pusat-pusat perbelanjaan mendadak padat merayap. Penampakan ini sudah biasa terjadi setiap memasuki bulan Ramadhan. Masyarakat Indonesia rela berdesak-desakan untuk menyambut bulan suci tersebut.

Bagaimana tradisi masyarakat Indonesia menyambut Ramadhan? Saya sempat bertanya kepada beberapa orang yang sedang berbelanja di Pasar Tanah Abang, perihal apa saja persiapan mereka menyambut Ramadhan. Hampir semua menjawab sedang belanja makanan persiapan sahur dan buka puasa. Sebagian lainnya belanja pakaian persiapan Lebaran. Begitulah kebiasaan umum masyarakat Indonesia dalam menyambut Ramadhan.

Hakikat Ramadhan

Dalam bahasa Arab, Ramadhan berasal dari kata dasar “ramda” yang artinya “membakar “. Artinya, di bulan ini, dosa-dosa manusia di sebelas bulan sebelumnya akan dibakar dengan melaksanakan puasa yang benar dan ibadah-ibadah lainnya. Di bulan ini, umat Islam dilatih untuk kembali menjadi manusia yang suci sesuai fitrahnya yang cenderung pada kebaikan. Karena itulah mengapa bulan Ramadhan sering disebut bulan yang suci, penuh berkah, dan penuh ampunan.

Dari pengertian dan maksud datangnya bulan Ramadhan, tampak jelas bahwa yang perlu dipersiapkan oleh umat Islam adalah mental dan fisik agar bisa menjalankan ibadah sebanyak-banyaknya. Bukan malah sibuk dengan makanan yang akan dimakan pada saat sahur dan buka puasa. Tak heran kalau ada orang yang berbuka puasa layaknya “balas dendam”. Semua makanan ingin dimakannya. Alhasil, alih-alih latihan menahan diri dan sikap sederhana yang terbangun, justru mendatangkan sikap serakah.

Berpuasa adalah salah satu ibadah yang diwajibkan di dalam bulan Ramadhan. Berpuasa tidak hanya berarti menahan diri dari lapar, haus, dan berhubungan seksual bagi suami-istri. Tapi lebih jauh dari itu adalah menahan diri dari segala bentuk pikiran, perasaan, dan perbuatan yang dilarang oleh Allah.

Puasa bukan ibadah yang bersifat individual semata. Selain ia hubungan spiritual antara hamba dengan Tuhannya (vertikal), ada manfaat kemanusiaan (horizontal) yang juga terkandung di dalamnya. Manfaat puasa mestinya tidak hanya dirasakan oleh orang berpuasa, tapi juga oleh orang lain. Karena itu, di bulan Ramadhan, selain ibadah seperti salat, puasa, tadarusan, berzikir, berdoa, umat Islam juga dianjurkan untuk bersedekah kepada orang yang membutuhkan, dan melakukan aktivitas yang bermanfaat untuk orang lain.

Bahkan, Allah mengingatkan agar umat Islam memperhatikan tetangganya. Jangan sampai kita sahur dan berbuka dengan nikmat, sementara tentangga sebelah kelaparan. Ini membuktikan bahwa Tuhan sangat memperhatikan keseimbangan hubungan antara manusia dengan Tuhan (habbluminallah) dan hubungan antarmanusia (habbluminannas)

Kembali Satu

Dalam konteks Indonesia saat ini, masyarakat penting sekali untuk melakukan “puasa sosial”. Puasa sosial berarti latihan menahan diri dari berpikir negatif kepada orang lain, benci yang berlebihan kepada orang atau kelompok yang berbeda pilihan politik atau kepercayaan, menahan diri untuk mem-posting status di media sosial yang bisa menyakiti orang lain, dan menahan diri untuk menyebar hoax. Selama bulan Ramadhan, kebiasaan-kebiasaan negatif itu harus dihindari. Kalau latihan ini berhasil, maka di sebelas bulan lainnya, kebiasaan ini akan hilang.

Bulan Ramadhan kali ini mestinya menjadi Ramadhan yang istimewa bagi umat Islam di Indonesia. Sebab ia datang bertepatan dengan momentum pemilu yang telah membuat masyarakat Indonesia terpolarisasi. Bulan penuh berkah ini sepertinya sengaja didatangkan agar menjadi media atau fasilitator untuk mendamaikan kelompok yang sempat saling membenci hingga berkonflik karena perbedaan pilihan politik.

Saling berkirim pesan maaf atau berbuka puasa bersama bisa menjadi pilihan untuk mencairkan suasana. Biarkan bulan Ramadhan membakar seluruh perbedaan dan konflik yang pernah terjadi sepanjang proses pemilu. Mari kembali menjadi bangsa yang satu, Indonesia. – PT Kontak Perkasa Futures

Sumber : detik.com