Tantangan Kampus di Daerah – PT Kontak Perkasa Futures

PT Kontak Perkasa Futures – Kebinasaan profesi individual akibat revolusi digital memang nyata-nyata tengah terjadi. Klaus Schwab (2017) dengan mantap menyuarakan hilangnya beberapa posisi strategis yang tentu akan membuat gelisah manusia yang enggan dengan perubahan. Tidak hanya itu, ternyata berbagai institusi mapan juga mengalami hal yang demikian. Termasuk institusi pendidikan; mereka juga tidak kalah terancam.

Institusi pendidikan tinggi di berbagai belahan dunia juga mengalami tekanan yang demikian hebat. Bahkan dari beberapa pengalaman para ilmuwan top Indonesia yang sempat mengenyam pendidikan di luar negeri, mereka bercerita sampai hari ini banyak sekali program-program studi yang harus memutar otak agar tidak kehilangan mahasiswa karena kebanyakan lebih memilih jurusan-jurusan yang sesuai dengan prediksi di era disrupsi, yaitu program studi yang mewadahi pengembangan teknologi informasi.

Universitas berinovasi dengan menggabungkan berbagai program studi seperti ilmu ekonomi dengan ilmu komputer, ilmu kedokteran dengan ilmu robotika, ilmu sosial dengan ilmu sistem informasi, dan lain sebagainya. Alhasil kini mereka tetap menjadi kampus dengan predikat top global.

Di tengah tekanan perubahan yang sangat cepat dan kuat, mungkin institusi pendidikan tinggi di Indonesia dengan sumber daya melimpah (dosen dan finansial) bisa tenang-tenang saja untuk menghadapi perubahan dengan misalnya mengirim para dosen studi lanjut, mengembangkan pusat studi dan laboratorium, serta melakukan training yang masif dan sustainable.

Jumlah total kampus kita sekitar 4.500 kampus. Di Tiongkok saja hanya 2.500, bahkan di India hanya 819 kampus. Sungguh membutuhkan sumber daya yang ekstra luar biasa untuk menjaga kampus tetap berdiri. Tetapi, pokok persoalan menjadi pelik ketika menengok kondisi berbagai kampus lokal yang dikelola oleh yayasan dan terletak di daerah-daerah. Terkadang untuk menggaji dosen saja sudah kembang kempis (di bawah UMR), pengembangan keilmuan mundur, bahkan bangunan kampus lebih buruk dari bangunan sekolah menengah atas di daerah tersebut.

Kondisi tersebut harus menjadi peluang dan membuat banyak pihak untuk terus tertantang membangun pendidikan tinggi di Indonesia terutama dalam konteks lokal agar proses pencerdasan anak bangsa tidak berhenti di tempat.

Tantangan disrupsi dengan tata kelola serba digital adalah yang paling urgen dicermati oleh kampus lokal yang tersebar di seluruh pelosok Indonesia. Semua serba digital ke depannya akan membuat perubahan tata kelola perguruan tinggi semakin kompleks. Akreditasi sudah menggunakan instrumen berbasis website secara paperless melalui laman SAPTO BAN PT (Sistem Akreditasi Perguruan Tinggi Online Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi).

Karena data tersebar online dan bersifat digital, maka pengecekan plagiat lebih mudah, bahkan beberapa kampus terancam tidak terakreditasi karena ketahuan melakukan copy paste borang penilaian dari kampus lain, bahkan hingga 100%. Lebih berat lagi dengan hadirnya supervisi akreditasi 4.0 dari BAN-PT yang menyesuaikan dengan perkembangan revolusi industri 4.0 semakin meneguhkan perubahan pendidikan tinggi ke arah dunia yang berorientasi output dan outcome.

Dosen-dosen harus mulai menggunakan aplikasi Sister untuk melaporkan kinerja mereka secara online. Institusi dan dosen harus memverifikasi akun Sinta mereka untuk melihat kinerja publikasi sehingga dapat dilihat oleh masyarakat luas. Karya-karya ilmiah mahasiswa harus di-upload ke repository kampus yang tersambung dengan Rama milik Ristekdikti agar tidak ada lagi kasus plagiat karya ilmiah mahasiswa.

Kasus-kasus plagiat pun kini mulai dapat ditangani secara online melalui Anjani milik Ristekdikti. Sangat mudah untuk mengecek kadar plagiat karya ilmiah dosen ataupun mahasiswa pada era ini, dengan berbagai pilihan aplikasi yang mudah untuk didapatkan dengan harga yang relatif terjangkau.

Kampus lokal yang tidak memahami secara komprehensif perubahan digital dalam tata kelola pendidikan tinggi akan segera kehilangan mahasiswa yang pada akhirnya akan membuat kampus tutup. Contoh saja ketika lulusan dirugikan karena karya ilmiah mereka tidak di-upload di repository universitas. Lulusan pada akhirnya tidak memiliki rekam jejak ilmiah di dunia digital.

Hal itu sangat merugikan karena ke depan ketika melamar pekerjaan hanya akan butuh Google untuk memverifikasi data mereka. Nama dan universitas asal diketik, maka tidak ada yang muncul; dianggap dari kampus abal-abal dengan kompetensi tidak jelas. Akibatnya fatal, karena lulusan gagal mendapatkan pekerjaan.

Hari ini strategi bertahan dengan mencari mahasiswa sebanyak-banyaknya sudah tidak berlaku lagi. Memasuki dunia tata kelola pendidikan yang serba digital adalah solusi yang harus dilakukan untuk tetap survive. – PT Kontak Perkasa Futures

Sumber : detik.com