Cipta, Pelihara, dan Binasa – PT Kontak Perkasa Futures

PT Kontak Perkasa Futures – Hari Selasa Kemarin (28/03/2017) Hindu merayakan hari raya Nyepi tahun baru Saka 1939. Tetapi bukan hal itu yang akan saya bicarakan di sini. Bahkan apa yang saya tulis kali ini tidak ada hubungannya dengan hari raya Nyepi.

Tetapi karena hari raya Nyepi merupakan salah satu hari raya umat Hindu, saya jadi ingin menuliskan sesuatu yang berhubungan dengan Hinduisme. Di sini saya ingin sedikit mengemukakan beberapa perwujudan Dewa-dewa Hindu yang dikenal sebagai Trimurti. Jadi sekali lagi, tulisan ini tidak membahas tentang hari raya Nyepi, tetapi tentang kepercayaan agama Hindu.

Gagasan tentang Kebenaran

Sebagai salah satu agama yang sudah berkembang sejak lama di Nusantara, Hindu memiliki peran dalam mempengaruhi kehidupan spiritual masyarakat, terutama sebelum Islam masuk dan berkembang di wilayah ini. Sejarah agama Hindu di Nusantara diyakini mulai berkembang sejak abad ke-7.

Saat itu muncul dua agama besar yang berkembang, yaitu Hindu dan Buddha. Kedua agama tersebut tumbuh berkembang dalam satu lingkungan yang sebelumnya juga sudah mengembangkan sistem kepercayaan sendiri, pemujaan terhadap arwah nenenk moyang. Seiring berjalannya waktu, ketiga kepercayaan tersebut saling memberikan pengaruh.

Hal ini dapat dilihat dari aktivitas ritual dan wujud-wujud material yang digunakan sebagai sarana pendukungnya. Dapat dikatakan bahwa ketiga kepercayaan ini sejak awal perkembangannya dapat tumbuh bersama-sama secara harmonis.

Di dalam kehidupan beragama, kepercayaan merupakan manifestasi dari landasan hidup yang diyakini gagasan kebenarannya. Gagasan tentang kebenaran dalam agama Hindu selalu dipahami dalam hubungannya dengan tujuan akhir dari kehidupan manusia. Hal ini juga mencakup bentuk-bentuk upaya yang dilakukan dalam mencapai tujuan tersebut.

Gagasan tentang kebenaran tersebut juga sering dibayangkan sebagai pribadi(-pribadi) yang memiliki kualitas-kualitas istimewa. Hal ini menimbulkan suatu kepercayaan bahwa wujud pribadi yang diyakini tersebut merupakan unsur penolong dalam berbagi aspek kehidupan bahkan kehidupan setelah kematian – PT Kontak Perkasa Futures

Di dalam agama Hindu tujuan manusia adalah untuk kembali menyatu kepada sumber dari segala apa yang ada, yakni Brahman. Hidup manusia merupakan perjalanan suci sejak kelahiran hingga kematian. Dalam perjalanan ini terdapat sejumlah perhentian mati merupakan salah satu perhentian, tetapi bukan titik akhir.

Kematian lebih dipercaya sebagai permulaan dari suatu perjalanan kehidupan yang baru. Perhentian terakhir sebagai penutup perjalanan yang panjang itu adalah tercapainya moksa, yaitu keadaan terbebas dari kelahiran kembali. Moksa dapat dicapai bila orang telah menguasai pengetahuan tentang kebenaran tertinggi.

Karena telah mencapai kesempurnaan mutlak ia kembali menyatu dengan Brahman. Bagi orang awam, pengetahuan tentang kebenaran tertinggi tidak dapat dicapai dalam masa kehidupan kini. Dalam agama Hindu, Iswara merupakan pancaran dari Brahman dan dalam wujud yang lebih konkret dinyatakan dalam wujud arca – PT Kontak Perkasa Futures

Trimurti

Di Nusantara terutama di Jawa, ditemukan arca-arca yang menjadi perwujudan dewa-dewa. Arca Siwa merupakan perwujudan yang paling banyak ditemukan. Kehadiran arca Siwa tidak selalu dijumpai dalam kesendirian.

Arca Siwa sering ditemukan bersama-sama dengan dewa lainnya, yakni Wisnu dan Brahma sebagai rangkaian Trimurti. Trimurti merupakan perwujudan Iswara dengan tiga peran yang berbeda. Di bawah ini akan dikemukakan perwujudan dari masing-masing dewa tersebut.

Brahma

Alam semesta dan segala macam isinya merupakan penciptaan oleh suatu unsur yang diyakini kebenarannya. Dalam kepercayaan agama Hindu, Brahma merupakan perwujudan Iswara ketika menciptakan dunia dan segala isinya. Sebagai dewa pencipta, Brahma juga disebut dengan Pitamaha (the Great Father).

Ciri umum yang dimiliki Brahma adalah memiliki empat wajah yang tenang, empat tangan, dapat digambarkan duduk, berdiri, maupun mengendarai kereta yang ditarik hamsa (angsa). Meskpiun Brahma menduduki posisi sebagai mahadewa dalam panteon Hindu bersama dengan Wisnu dan Siwa, yang tergabung dalam Trimurti, namun pemujanya tidak sebanyak Siwa. Hal ini tercermin dari sedikitnya keberadaan arca Brahma – PT Kontak Perkasa Futures

Wisnu

Setelah alam semesta diciptakan oleh Brahma, dewa Wisnu merupkan perwujudan Iswara yang bertugas melindungi, menjaga, dan mempertahankan keberlangsungannya hingga waktu yang ditetapkan bagi alam untuk dikembalikan kepada asalnya.

Kitab Purana menggambarkan Wisnu sebagai seorang laki-laki muda yang tampan dan berkulit biru tua. Hal ini membuat saya teringat dengan gambaran dalam animasi “Krishna” yang pernah tayang di salah satu saluran televisi Indonesia. Dan memang Krishna merupakan salah satu perwujudan dewa Wisnu ketika turun ke dunia untuk menjadi penyelamat. Keberadaan Wisnu cukup populer pada periode Jawa Tengah Kuno yang dibuktikan dengan banyaknya arca yang ditemukan.

Siwa

Orang awam menyebut Siwa sebagai dewa perusak atau pembinasa. Karena kedudukannya inilah maka Siwa memiliki banyak pemuja agar hal-hal yang berkaitan dengan rusaknya dunia tidak terjadi. Namun perlu dipahami bahwa Siwa sebagai dewa pembinasa tidak dimaknai secara destruktik negatif.

Siwa merupakan perwujudan Iswara yang berperan mengembalikan segala sesuatu yang telah diciptakan kepada asal penciptaannya apabila waktu yang ditentukan telah tiba. Bukankah segala sesuatu yang diciptakan pada akhirnya akan kembali pada asal-muasal penciptannya?

Begitulah fragmen perwujudan gagasan tentang kebenaran yang dapat digambarkan dalam kepercayaan agama Hindu. Secara garis besar proses yang baru bisa dimengerti masih berupa penciptaan, pemeliharaan, dan pembinasahan. Pada akhirnya tujuan manusia dalam perjalanan hidup adalah untuk kembali menyatu kepada sumber dari segala apa yang jadi asalnya – PT Kontak Perkasa Futures
Sumber:sotochan.blogdetik