Jejak Majapahit dalam Budaya Jawa – PT Kontak Perkasa

PT Kontak Perkasa – Peringatan hari raya Galungan di Kabupaten Semarang berlangsung khidmat. Umat Hindu di Bumi Serasi ini menggelar persembahyangan di pura maupun di sejumlah candi yang ada di Kabupaten Semarang.

Seperti yang dilakukan belasan umat Hindu di Desa Asinan, Bawen, yang menggelar persembahyangan di Candi Ngempon, Kecamatan Bergas.

Ritual persembahyangan di Candi Ngempon ini memperlihatkan akulturasi budaya Jawa dan Hindu yang cukup kental. Mulai dari pakaian hingga rupa-rupa sesaji yang menjadi persembahan. Para laki-lakinya terlihat memakai penutup kelapa blangkon, berbaju surjan warna hitam, dan bawahan berupa kain jarik (batik).

“Karena kami di Jawa, maka adat-adat Jawa kami pakai. Sama seperti di Bali, ikat kepala dan bajunya itu kan bagian dari adat, umat apa pun memakainya,” kata Pemangku Pura Tirtaloka, Dwi Yanto.

Sementara sejumlah sesaji yang dibawa, ujarnya, merupakan warisan budaya sejak zaman Majapahit. Antara lain adalah daksina atau palinggihan (tempat duduk) bagi Yang Maha Esa dan tumpeng janganan sebagai perlambang perhomonan kepada Sang Hyang Widhi agar diberi seger kuwarasan (segar bugar).

“Sesaji daksina dan tumpeng janganan ini adalah salah satu warisan sejak zaman Majapahit,” lanjutnya.

Tak hanya dalam segi pakaian dan rupa-rupa sesaji, kidung mantra yang dinyanyikan dalam persembahyangan ini pun menggunakan bahasa jawa.  Lebih jauh lagi, dalam memaknai hari raya Galungan ini, mereka juga menggunakan sudut pandang budaya Jawa.

Menurut Dwi Yanto, salah satu makna hari raya Galungan adalah keyakinan mengenai terciptanya jagat raya ini bertepatan dengan hari Rabu Kliwon, dalam Wuku Dungulan.

“Bahwa pada hari Galungan ini para Bathara turun ke marcapada, jadi kita sembahyang untuk menyambutnya,” dia menjelaskan.

Dwi Yanto menambahkan, persembahyangan dalam rangka memperingati hari raya Galungan ini juga ditujukan untuk menjaga kesakralan candi leluhur peninggalan nenek moyang Hindu tersebut. Candi Ngempon digunakan untuk upacara persembahyangan perayaan Galungan mulai 2009 silam. “Umat Hindu punya kewajiban untuk melakukan persembahyangan di sini,” pungkasnya – PT Kontak Perkasa
Sumber:nationalgeographic