Jadi Ajang Spekulasi, Kurs Rupiah Bisa Tembus 14.000 – PT Kontak Perkasa

PT Kontak Perkasa – Jakarta-Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudhistira memprediksi nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat bisa terus melemah. Tak menutup kemungkinan rupiah bisa menyentuh ke level Rp 14.000 per dolar A. “Tembus 14 ribu di tahun ini terbuka lebar karena tekanan dari pengetatan moneter global makin kuat,” kata dia, Ahad, 4 Maret 2018.

Salah satu tekanan paling utama datang dari Bank Sentral Amerika (The Federal Reserve). Menurut dia, Bank Sentral Amerika akan menaikan suku bunganya sebanyak empat kali sepanjang tahun ini. Bila sesuai prediksi maka pelemahan rupiah bisa terjadi di periode Maret, Juni, Agustus, dan akhir 2018.

Pekan lalu rupiah berada di posisi terendah, yaitu Rp 13.751 per dolar AS. Melemahnya rupiah itu bahkan terburuk dalam dua tahun terakhir. Tercatat pada 8 Januari 2016 rupiah berada di level Rp13.923 per dolar AS.. Titik terendah rupiah terjadi pada 25 September 2015, yaitu sebesar Rp 14.646 per dolar AS.

Bhima menilai makin menguatnya dolar terhadap rupiah berpotensi dijadikan ajang spekulasi. Bagi pelaku usaha tertentu akan dimanfaatkan untuk membayar cicilan dan bunga pinjaman luar negeri tahun ini. “Ini akan borong dolar sebelum terlalu mahal,” ucapnya.

Lebih lanjut, Bhima menjelaskan setidaknya ada dua perbedaan dari menguatnya dolar dibandingkan 2015 dengan 2018 tahun ini. Perbedaan mendasar terlihat dari sikap Gubernur Bank Sentral AS, Jerome Powell yang dianggap lebih berani (hawkish).

Sikap tersebut, lanjutnya, membuat pasar atau investor berspekulasi menyangkut Fed Rate dan inflasi di Amerika ke depannya. “Reaksi ini terlihat dari kenaikan imbal hasil (yield) treasury 10 tahun yang mendekati tiga persen,” kata dia.

Berikutnya, Bhima menilai, kenaikan bunga acuan bersamaan dengan normalisasi neraca The Fed. Situasi itu diikuti oleh bank sentral negara lainnya, seperti Bank Sentral Eropa (European Central Bank) dan Bank Sentral Jepang (Bank of Japan). “Jadi snowball effect-nya,” ucap Bhima.

Bank Indonesia, lanjutnya, akan melakukan intervensi bila rupiah terus terperosok. Bhima menyatakan BI akan menjaga rupiah tidak akan bergerak terlalu jauh dari posisi 13.400. Namun bila proyeksi itu meleset, regulator dinilai perlu mempertimbangkan kenaikan suku bunga 7-Day Repo Rate.

Kenaikan suku bunga di kisaran 25-50 basis poin disebut-sebut akan menahan dana asing keluar dari Indonesia. Meski demikian, kata Bhima, imbasnya bunga kredit perbankan bisa bergerak naik. – PT Kontak Perkasa

sumber: Tempo.co