Pengaruh Debat Capres – PT Kontak Perkasa

PT Kontak Perkasa – Memang tidak mungkin dan tidak rasional untuk mengetahui dan memahami secara mendalam kualitas dan karakter kepemimpinan serta aspek lain capres dan cawapres hanya melalui debat dengan durasi waktu yang sangat terbatas itu. Terlebih ketika Komisi Pemilihan Umum (KPU) sebelumnya telah berencana akan memberikan soal debat capres kepada masing-masing peserta debat satu minggu sebelum pelaksanaan.

Tidak heran apabila publik resah, khawatir debat capres hanya sebatas seremonial semata karena semua hal yang disampaikan telah dipersiapkan terlebih dahulu. Esensi debat yang diharapkan publik untuk mengetahui secara murni capres dan cawapres tentu tercederai.

Namun, setidaknya dengan debat ini publik akan mempunyai sedikit gambaran mengenai karakter, arah gerak kepemimpinan, serta target yang hendak dicapai ketika terpilih menjadi presiden dan wakil presiden. Bagi pasangan calon, agenda debat ini tentu akan menjadi ruang yang sangat tepat, tidak hanya sosialisasi program, namun juga mengkritisi agenda lawan, menunjukkan serta meyakinkan masyarakat bahwa agendanya jauh lebih unggul.

Debat capres ini tentu tidak akan membawa berpengaruh signifikan bagi para pendukung yang fanatik dan tradisional. Bagi mereka, bagaimanapun kualitas calon yang didukungnya dalam berdebat dan menyampaikan gagasan, akan tetap menjadi idola dan pilihannya ketika hari pemungutan suara tiba. Berbeda ceritanya ketika dihadapkan pada pemilih yang diistilahkan oleh Ubedilah Badrun sebagai tipe pemilih skeptis (pemilih yang meragukan semua calon).

Atau, tipe pemilih rasional (pemilih berdasarkan rasionalitas politik dan kualitas calon) namun masih “abu-abu” atau “ragu” menentukan pilihan (swing voters). Bagi mereka, debat capres dan cawapres akan memberikan jalan dan arah pilihan yang sangat menentukan. Pada konteks inilah bisa dikatakan bahwa penyelenggaraan debat capres dan cawapres ini akan sangat menentukan elektabilitas masing-masing pasangan calon.

Belajar dari sejarah, yaitu pada Pemilu Presiden 2014, Anies Baswedan sebagai juru bicara tim sukses Jokowi-JK menyebutkan bahwa kemenangan Jokowi-JK banyak disumbang oleh “pemilih abu-abu”. Cirebon dan Indramayu, yang diyakini sebagai basis wilayah Prabowo-Hatta sekalipun, bisa dimenangkan oleh Jokowi-JK pada Pemilu 2014 dengan perolehan suara 60%. Hal ini tentu menjadi tantangan tersendiri bagi pasangan calon dari kedua kubu pada 2019 ini.

Terlebih ketika melihat margin elektabilitas antara keduanya tidak terlalu besar. Survei terbaru elektabilitas Jokowi-Ma’ruf Amin vs Prabowo-Sandiaga Uno oleh Alvara Research Center yaitu 54,3% vs 35,1% dengan undicided voters 10,6%. Sedangkan, hasil survei oleh Lembaga Survei Median menunjukkan margin yang lebih kecil yaitu 47,7% vs 35,5% dengan undicided voters sebesar 16,8%.

Faktanya, angka pemilih yang masih “abu-abu” antara pasangan calon Nomor 01 atau Nomor 02 ini memang terbilang sangat tinggi. Peneliti LIPI Siti Zuhro menyebut, pada Pilpres 2019 ini angka pemilih yang masih “abu-abu” mencapai 30% hingga 40%, yang didominasi oleh pemilih muda dan apolitis. Angka ini ternyata lebih tinggi dibandingkan “pemilih abu-abu” pada 2014, yang menurut survei LIPI pada akhir Juni 2014 angkanya mencapai 20% (dua puluh persen).

Jumlah “pemilih abu-abu” ini ternyata masih lebih besar dibandingkan dengan margin elektabilitas. Artinya, selisih elektabilitas itu dapat saja tertutup untuk bisa memenangkan pemilu, ketika bisa merebut hati pemilih yang masih “abu-abu” tersebut. Tidak terlalu berlebihan ketika salah satu pengamat politik mengatakan bahwa menguasai 10% saja dari pemilih yang masih “abu-abu” itu, maka potensi memenangkan pemilu presiden dan wakil presiden ini sudah terbuka begitu lebar.

Dengan demikian, sebenarnya adanya debat capres dan cawapres ini merupakan media untuk meyakinkan dan menarik hati pemilih yang masih “abu-abu” tersebut dengan tawaran gagasan yang rasional dan tentu lebih unggul daripada gagasan lawan. Kendati demikian, pemilih yang telah menentukan pilihannya juga sangat mungkin akan berpaling, mengingat pemilih di Indonesia yang sangat terbuka, ditambah dengan rendahnya kedekatan psikologis dengan partai politik. – PT Kontak Perkasa

Sumber : detik.com