Setelah China dan Iran, Giliran Mongolia yang ‘Anti’ Kripto – PT Kontak Perkasa

PT Kontak Perkasa – Pemerintah Mongolia sedang mempertimbangkan aturan bagi perusahaan atau individu yang terlibat dalam penambangan mata uang digital dan akan menindak lebih lanjut praktik tersebut.
Langkah ini dilakukan setelah Wakil Perdana Menteri China, Liu He mengatakan pada pekan lalu bahwa perlunya untuk menindak penambangan Bitcoin dan perilaku perdagangan yang masif untuk mencegah terjadinya transmisi risiko individu ke bidang sosial.

Pernyataan tersebut dipandang sebagai niat Beijing untuk melanjutkan tindakan kerasnya selama empat tahun terhadap perdagangan Bitcoin dan aktivitas terkait cryptocurrency lainnya.

Aturan tersebut akan dikeluarkan oleh pemerintah Mongolia yang bertujuan untuk menindak perusahaan, terutama perusahaan teknologi yang melakukan aktivitas penambangan mata uang digital.

Komisi Pembangunan dan Reformasi Mongolia mengatakan perusahaan-perusahaan semacam itu dapat dicabut izin usahanya jika mereka diketahui terlibat dalam pertambangan kripto.

Jika hal itu terindikasi oleh pemerintah setempat, maka komputasi cloud data yang di miliki oleh perusahaan tersebut yang sebelumnya mendapat dukungan pemerintah secara preferensial dapat dicabut.

Selain perusahaan, aturan ini juga akan berlaku bagi individu yang juga melakukan praktik yang sama, yakni penambangan Bitcoin atau cryptocurrency lainnya.

Sikap keras Mongolia pada penambangan kripto sebenarnya dimulai pada Maret lalu, setelah pemerintah setempat mengumumkan rencana untuk melarang proyek penambangan cryptocurrency baru dan menutup aktivitasnya untuk mengurangi konsumsi energi.

Wilayah China utara gagal memenuhi target penggunaan energi Beijing pada 2019 dan kemudian menyusun rencana untuk mengurangi konsumsi daya.

Penambang Bitcoin menggunakan komputer yang dibuat khusus untuk menyelesaikan persamaan matematika kompleks yang secara efektif memungkinkan transaksi kripto. Namun, seluruh proses ini membutuhkan banyak energi karena jumlah daya yang digunakan oleh komputer.

Penambangan Bitcoin menghabiskan sekitar 112,57 terrawatt-jam per tahun, melebihi konsumi energi dari negara seperti Filipina dan Chili, menurut Indeks Konsumsi Listrik Bitcoin Cambridge, sebuah proyek dari Universitas Cambridge.

China menyumbang sekitar 65% dari penambangan Bitcoin di dunia. Karena energinya yang murah, Mongolia pun menyumbang sekitar 8% secara global.

Sikap keras China terhadap cryptocurrency bukanlah hal baru. Sebelumnya, China juga melakukan hal yang sama pada tahun 2017, di mana China melarang apa yang disebut penawaran koin awal (ICO). Tetapi, trader di China daratan terus melakukannya dan cenderung menghiraukan larangan tersebut.

Pengawasan mendalam tentang penambangan Bitcoin di Mongolia secara khusus muncul saat China berusaha menjadi negara go green. Presiden Xi Jinping pada tahun lalu menargetkan emisi karbon dioksida puncak pada tahun 2030, sementara netralitas karbon ditargetkan tercapai pada tahun 2060.

Sebuah penelitian yang diterbitkan dalam peer-reviewed journal,Nature Communications pada April lalu menjelaskan bahwa penambangan Bitcoin dapat merusak upaya pengurangan emisi yang terjadi di negara tersebut.

Konsumsi energi dari operasi penambangan Bitcoin kembali menjadi sorotan pada awal bulan ini, setelah CEO Tesla Elon Musk mengatakan bahwa ia akan berhenti menerima mata uang digital untuk pembelian mobil Tesla dengan alasan masalah lingkungan.

Ironisnya, hal Itu terjadi setelah Tesla mengungkapkan pada Februari lalu bahwa ia telah membeli Bitcoin sebanyak US$ 1,5 miliar dan berencana untuk memungkinkan pelanggan dapat membeli mobil Tesla menggunakan Bitcoin.

Pada Senin (24/5/2021) lalu, Musk mengatakan melalui tweet-nya bahwa dia bertemu dengan penambang Bitcoin di Amerika Utara dan mereka berkomitmen untuk mempublikasikan penggunaan terbarukan saat ini & yang direncanakan. – PT Kontak Perkasa

Sumber : cnbcindonesia.com