Takhayul dan Kultus Sukarno – PT Kontak Perkasa

PT Kontak Perkasa – Februari 1934, Sukarno mulai menjalani hukuman pengasingan di Ende, Flores, Nusa Tenggara Timur. Hukuman itu dijatuhkan Pemerintah Kolonial Hindia Belanda karena Sukarno tidak pernah “bertobat” menyuarakan kemerdekaan Indonesia. Di sana Sukarno tinggal selama empat tahun (1934-1938) bersama istrinya Inggit Ganarsih, ibu mertuanya, dan anak angkatnya, Ratna Djuami.

Pengasingan di Ende menjadi salah satu fase terpenting dalam perjalanan hidup Sukarno. Di kawasan terpencil inilah Sukarno mulai bersungguh-sungguh mempelajari Islam. Dan, untuk kali pertama dalam hidupnya, Sukarno mulai membebaskan diri dari berbagai macam takhayul yang bertentangan dengan Islam.

“Di Flores aku juga membersihkan diri dari segala takhayul,” kata Sukarno dalam otobiografinya Sukarno Penyambung Lidah Rakyat.

Sebelum menjalani pengasingan di Endeh, Sukarno mengaku masih percaya pada hal-hal yang bersifat takhayul. Dia misalnya percaya adanya hari baik, hari buruk, dan jimat pembawa keselamatan.

Sukarno bercerita, saat ia tinggal di Bandung, seorang pengagumnya pernah memberinya sebuah cincin. Di cicin itu terdapat batu berisi cairan hitam dengan biji kecil yang selalu mengapung ke atas. Menurut si pemberi, orang yang mengenakan cincin itu akan selalu beruntung dan berada di puncak kejayaan sebagaimana biji yang mengapung.

“Pada hari-hari itu aku percaya pada apa saja, karena aku memerlukan segala bantuan untuk memperoleh kekuatan,” kenang Sukarno.

Namun hukuman diasingkan ke Ende membuat Sukarno sadar bahwa cicin itu tidak memiliki kekuatan apapun. Saat sedang kere cincin itu akhirnya dijual Sukarno kepada seorang pedagang kopra di Ende dengan harga Rp150.

“Dan demikianlah aku melepas hartaku terakhir, yang disebut sebagai pembawa keberuntungan itu. Dengan telah terbebasnya aku dari takhayul, tidakkah aku harus berterimakasih kepada Flores,” kata Sukarno.

Dalam surat-surat yang ia tulis dari Ende kepada ulama Persis di Bandung, A. Hassan, Sukarno memang terang-terangan mengkritik sikap mengkeramatkan manusia dan benda. Dia mencontohkan salah satu kelemahan Islam di zaman itu adalah sikap mengkeramatkan kaum “sayid” yang hampir menjurus pada kemusyrikan.

“Tersesatlah orang yang mengira bahwa Islam mengenal suatu “aristokrasi Islam”. Tiada satu agama yang menghendaki kesamarataan lebih daripada Islam. Pengeramatan manusia itu adalah salah satu sebab yang mematahkan jiwanya sesuatu agama dan umat, oleh karena pengeramatan manusia itu, melanggar tauhid. Kalau tauhid rapuh, datanglah kebencanaan,” tulis Sukarno dalam surat tertanggal 1 Desember 1934.

Dalam surat lainnya pada 26 Maret 1935 Sukarno mengkritik hadis lemah dan palsu yang menurutnya lebih “laku daripada ayat Alquran”. Dia mengatakan hadis palsu dan lemah menjadi sebab kemunduran umat Islam.

“Karena hadits-hadits yang demikian itulah, maka agama Islam menjadi diliputi oleh kabut-kabut kekolotan, ketakhayulan, bidah-bidah, anti-rasionalisme, dll. Padahal tak ada agama yang lebih rasional dan simplistis daripada Islam,” tulis Sukarno.

Kultus Mistik pada Sukarno

Akan tetapi, Sukarno sendiri memang hidup dan tumbuh pada zaman dan di tengah masyarakat yang masih banyak mempercayai dan meyakini hal-hal mistik. Kebesaran dan keagungan Sukarno sebagai pemimpin, yang tercermin dari keberhasilan Sukarno lolos dari berbagai percobaan serangan mematikan, tak urung membuatnya menjadi subyek pemujaan yang tidak kalah irasionalnya.

Sebagai tokoh besar dengan banyak pengagum, Sukarno mengakui dirinya juga tidak lepas dari berbagai cerita mistis di masyarakat. Banyak orang, misalnya, percaya bahwa ia memiliki kekuatan supranatural yang mampu menyembuhkan penyakit.

Sukarno menceritakan pernah suatu hari seorang petani kelapa dari Jawa datang untuk meminta air darinya. Si petani, kata Sukarno, percaya air pemberiannya dapat menyembuhkan sang anak yang sedang sakit. Entah kebetulan atau tidak, Sukarno mengaku anak si petani sembuh seminggu kemudian setelah meminum air ledeng biasa pemberiannya.

“Dia yakin air apa pun yang kuberikan mengandung zat-zat yang dapat menyembuhkan. Aku tidak bisa berdebat dengan dia, karena orang Jawa percaya kepada mistik, dan dia yakin bahwa anaknya akan meninggal kalau tidak memperoleh obat dariku,” kata Sukarno kepada penulis otobigrafinya Cindy Adams.

Bukan cuma itu, saat berkunjung ke sebuah desa kecil di Jawa Tengah, ada seorang ibu yang berharap bisa mendapatkan sisa makanan dari Sukarno. Sang ibu berharap dengan memakan makanan bekas Sukarno anak yang dilahirkannya kelak akan tumbuh seperti Sukarno.

Orang-orang Bali, kata Sukarno, percaya bahwa dirnya merupakan penjelmaan Dewa Wisnu, Dewa hujan dalam agama Hindu. Kepercayaan ini menurut Sukarno muncul karena setiap kali ia datang ke Istana Tampaksiring, di Gianyar Bali, hujan selalu turun. Bahkan meski sedang musim kemarau. “Jujur saja aku mengucapkan syukur ke Sang Maha Pencipta bila turun hujan selama aku tinggal di Tampaksiring, karena kalau tidak hujan kewibawaanku akan berkurang,” katanya.

Kepercayaan orang bahwa Sukarno memiliki kekuatan mistis juga menjalar ke benda-benda yang dia gunakan, salah satunya tongkat komando. Letnan Kolonel Mangil Martowidjojo menceritakan Sukarno pernah mendapatkan hadiah sebatang tongkat komando dari Presiden Elpio Quirino saat berkunjung ke Filipina.

Tongkat komando itu kerap dibawa Sukarno dalam berbagai kunjungan resmi ke daerah maupun luar negeri. Belakangan orang mengatakan tongkat yang dibawa Sukarno memiliki kekuatan gaib, berkhasiat, dan lain-lain. Saat kabar burung tersebut sampai ke telinga Sukarno, dia mengaku heran.

“Lho ini, kan, cuma dibuat dari kayu biasa, dan juga dibuat oleh manusia biasa yang doyan nasi juga,” kata Komandan Detasemen Kawal Pribadi Resimen Cakrabiwa ini dalam memoarnya, Kesaksian Tentang Bung Karno 1945-1967.

Kultus yang Memfosilkan Sukarno

Sukarno menyempurnakan kekuasaannya sejak 1959. Dimulai dengan Dekrit 5 Juli 1959, Sukarno mengakhiri demokrasi liberal dan mengembalikan sistem pemerintahan Indonesia menjadi presidensial yang diperluas menjadi Demokrasi Terpimpin. Pada periode inilah Sukarno menjadi penguasa yang nyaris mutlak dan baru berpikir tentang pembagian kekuasaan dalam konteks menjaga keseimbangan antar faksi-faksi: militer atau TNI AD, komunis/PKI dan kalangan Islam.

Faksi-faksi itu memang ada, akan tetapi di atas segalanya Sukarno-lah yang menjadi primus inter pares. Ia menjadi “pemimpin besar revolusi”, menjadi “penyambung lidah rakyat” sekaligus “presiden seumur hidup” dan sederet gelar lain yang membuatnya menjadi pemimpin sekaligus penguasa yang hampir absolut.

Kultus terhadap Sukarno pun menjadi tidak terhindarkan. Ditopang oleh kharismanya yang memang dahsyat, juga kemampuannya menyapa rakyat jelata dengan bahasa yang tepat, kultus terhadap Sukarno kemudian menjadi bahan kritikan yang tidak alang kepalang. Pasca peristiwa 1 Oktober 1965, yang menjadi awal kejatuhan Sukarno, kritik terhadap kultus kepada Sukarno makin lama makin kencang.

Salah satu lawan politik Sukarno, Mochtar Lubis, yang dipenjara oleh Si Bung Besar, menulis tajuk rencana di surat kabar Indonesia Raya yang ia pimpin. Ia menulis: “Belum ada seminggu Sukarno meninggal dunia… banyaklah penganut dan pendukungnya di zaman lalu … mengosok cerana mistik Sukarno yang telah pudar selama ini agar dapat bercahaya berkilauan kembali. Hal ini biasa terjadi dengan pemimpin-pemimpin yang berkaliber besar. Pengikut-pengikut mereka merasa tak cukup besar dan kuat untuk menggantikannya dan merasa perlu untuk memakai nama dan mistiknya.” (Tajuk-tajuk Mochtar Lubis di harian Indonesia Raya, Volume 1, hal. 177).

Sukarno bukannya tidak menyadari kritik-kritik tersebut. Sebelum ia meninggal pun ia sudah mengatakan bahwa kultus individu itu memang berbahaya. Namun ia berusaha membedakan mana kultus individu dan mana hero worship. Dalam pidato pelantikan Sarino Mangunpranoto sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Sukarno berkata:

“Lihat sejarah bangsa-bangsa, bangsa mana pun. Pada waktu bangsa itu menjadi besar, selalu bangsa itu menjalankan hero worship. … Bacalah misalnya Thomas Carlyle, On Hero and Worship. Di situ Thomas Carlyle menganalisis perikehidupan bangsa-bangsa. Dan Thomas Carlyle selalu bertemu dengan hero personality yang di-worship. … Tidak ada satu bangsa menjadi besar jikalau bangsa itu tidak mempunyai hero dan tidak menjalankan hero worship dalam arti yang benar. Bukan worship dalam arti Personal Cultus, bukan worship dalam arti membebek. Tidak.”

Akan tetapi, seiring waktu, bahaya personal cultus yang disebut oleh Sukarno itu memang patut direnungkan. Dari waktu ke waktu, sosok Sukarno mengalami apa yang disebut oleh Ben Anderson sebagai “bahaya pemfosilan”. Di bagian akhir esai Bung Karno dan Bahaya Pemfosilan, Ben Anderson menulis:

“Setelah wafatnya, pemfosilan ini malahan menjadi-jadi dalam suasana penuh bau kemenyan. Kesimpulan ini sama sekali tidak berarti bahwa secara total pandangan-pandangan dan nilai-nilai Bung Karno sudah usang; cuman berarti bahwa pikiran-pikiran itu perlu direnungkan dengan sikap yang kritis (bukan anti), dan berkesadaran historis atas jarak jauh antara masa kini dan masa Bung Karno. … Menilai karangan-karangannya Bung Karno sebagai Kitab Suci atau Wejangan Leluhur yang Keramat akan memustahilkan pikiran yang jitu dan mendalam terhadap masalah-masalah Indonesia sekarang ini.” – PT Kontak Perkasa

Sumber:tirto