Terlihat Keren Tapi Sebenarnya Kere – PT Kontak Perkasa

PT Kontak Perkasa – Biasanya ketika penghasilan seseorang masih sedikit, seseorang akan lebih mudah membedakan secara rinci antara ‘bisikan keinginan’ atau ‘realita kebutuhan’. Contohnya bila kita lapar, maka kita secara alamiah akan mencari makanan untuk menghilangkan rasa lapar meskipun hanya nasi bungkus seharga dua ribu rupiah.

Inilah maksud dari ‘realita kebutuhan’. Namun ketika lapar, dan seseorang merasa hanya akan kenyang jika makan di restoran level berbintang, maka inilah yang dimaksud dengan ‘bisikan keinginan’.

Seseorang yang rasional meski berpenghasilan rendah, ia akan berusaha keras untuk membelanjakan uangnya pada hal hal yang lebih prioritas atau lebih kepada realita kebutuhan. Namun di saat kemampuan finansialnya meningkat, kecenderungan untuk membedakan antara keinginan dengan kebutuhan secara perlahan mulai menipis.

Keputusannya untuk berbelanja tidak lagi hanya berkaitan dengan kebutuhan, namun juga akan dikaitkan dengan simbol simbol dalam rangka menandai perasaan atau status sosialnya. Apabila hal ini sudah terjadi, biasanya kemampuan seseoang untuk menghentikan kebiasaan belanja mengikuti keinginan akan semakin sulit.

Dalam sebuah riset yang dilakukan oleh Daniel Kahneman, pakar Financial Psychology dari Amerika yang juga pernah menerima Hadiah Nobel bidang Ekonomi. Ia menelusuri hubungan antara Uang dengan Kebahagiaan.

Hasil risetnya menemukan fakta tentang income threshold. Income threshold ini adalah sebuah batas yang menentukan secara terukur tentang seberapa besar uang berpengaruh terhadap kebahagiaan seseorang. Ini berarti, sebelum penghasilan seseorang mencapai threshold/batas tersebut, maka indeks kebahagiaan seseorang akan terus meningkat.

Lalu berapa batas dari income threshold tersebut?

Dari ribuan responden yang dijadikan obyek penelitian, Daniel Kahneman mendapatkan data bahwa penghasilan US$ 6.000 (Rp 80 jutaan untuk US$ 1 = Rp 14.000) adalah batasan yang dimaksud.

Riset ini menunjukkan bahwa orang yang punya penghasilan Rp 5 juta per bulan, akan lebih bahagia dibandingkan yang berpenghasilan Rp 2 juta per bulan. Namun berdasarkan riset ini pula, mereka yang berpenghasilan 500 juta sebulan atau bahkan Rp 10 Miliar sebulan pun tidak lebih bahagia dibandingkan yang punya penghasilan Rp 80 juta sebulan.

Sehingga hasil studi Kahneman tersebut dapat saya simpulkan bahwa semakin tinggi penghasilan seseorang, akan semakin berpengaruh untuk menurunkan peranan uang dalam menambah indeks kebahagiaan seseorang.

Nah lho, makin kaya kok malah nggak nambah bahagia itu bagaimana ini?

Ternyata sang Pakar Financial Psychology itu mendapatkan jawabannya, yaitu adanya benang merah yang sangat kuat antara perilaku penggunaan uang dengan kebahagiaan orang. Dan yang dimaksud oleh sang pakar ini adalah penyakit yang bernama Hedonic Treadmill.

Saya mahfum serta dapat memahami bahwa motivasi seseorang untuk bisa semakin bahagia melalui peningkatan kemampuan keuangan adalah hal yang positif. Motivasi ini akan memacu adrenalin seseorang untuk meningkatkan produktivitas kerjanya dalam meraih harta.

Maka kekhawatiran akan penyakit yang bernama Hedonic Treadmill ini tidak berarti bahwa kita dilarang menjadi kaya dan bekerja lebih keras agar mendapatkan kesuksesan yang lebih baik. Tentu sama sekali bukan seperti itu pengertiannya. Hanya penekanannya, jika semua pencapaian sukses itu self-oriented, maka hal itu hanya akan membawakan kebahagiaan yang semu dan sementara.

Dan yang menjadi masalah pada konsep yang disebut Hedonic Treadmill ini sebetulnya adalah pada alokasi anggaran yang berantakan dan tingkat keserakahan seseorang. Lantas bagaimana caranya agar bisa menjauh dari hidup yang serba keren(hedonis) yang pada akhirnya justru bikin kehidupan jadi berantakan?

Menurut saya ada dua hal, yakni dengan kebiasaan berbagi dan berbelanja sesuai prioritas. Dua prinsip ini akan menjadi ‘fondasi’ yang sangat kuat untuk menahan gempuran keinginan, baik yang berasal dari luar seperti rayuan iklan maupun dari dalam yaitu berupa bisikan yang melenakan.

Bagaimana memulainya? Mudah saja, membiasakan diri untuk berbagi dengan mereka yang membutuhkan adalah cara yang paling keren agar sifat serakah di dalam diri kita dapat terus dikikis.

Penting untuk dicatat, karena sifat serakah itu punya kontribusi besar menjadikan seseorang senang berbelanja (gila belanja) pada hal hal yang sebetulnya tidak perlu. Dengan terkikisnya sifat serakah inilah yang akan membuat hidup seseorang menjadi lebih dekat kepada kesederhanaan.

Dan sikap sederhana inilah yang kelak akan menjaga seseorang walaupun memiliki harta berlimpah, namun tetap tidak tergoda untuk berlebihan dalam memenuhi kebutuhan hidupnya.

Solusi berikutnya adalah dengan membuat daftar belanja secara proporsional agar tidak boros namun juga tidak kikir. Caranya yaitu dengan membuat daftar prioritas pembelanjaan/pengeluaran.

Diawali dari prioritas yang paling utama yakni untuk diberikan kepada yang menjadi tanggungannya, kebutuhan dana darurat, perlindungan penghasilan, dana investasi untuk rencana prioritas di masa depan, hingga pembagian pos harta waris sedekah, hibah dan wakaf. – PT Kontak Perkasa

Sumber : detik.com