Waspada Cashback Factor – PT Kontak Perkasa

PT Kontak Perkasa – Anda pernah dengan yang namanya latte factor? Pasti tahu dong ya, di mana orang, kebanyakan generasi milenial membuang-buang uang untuk ngopi sore alias kalau di Indonesia dikenal dengan istilah ngopi cantik.

Mengapa ngopi yang puluhan ribu itu kemudian menjadi pembicaraan? Karena ketika saya dulu tinggal di Amerika, harga secangkir kopi itu hanyalah 25 sen atau setara dengan Rp 3.500 saja.

Kalaupun anda duduk di suatu diner (restoran 24 jam untuk sarapan, makan siang dan makan malam), maka harga secangkir kopi tidak lebih dari US$ 1 atau setara dengan Rp 14.000 dan itu pun anda bisa minum kopi sepuasnya alias all you can drink.

Nah ngopi cantik seperti di Starbucks atau Coffee Bean ini kemudian menjadi bermasalah ketika anda harus membayar US$ 5-7 untuk secangkir kopi atau setara dengan di atas Rp 60.000.

Mengapa orang mau membayar mahal 5-7x lipat untuk kopi yang mirip yang ditawarkan dari tempat-tempat terkenal tersebut? Sementara hal ini dilakukan secara rutin setiap hari. Hal inilah yang kemudian memicu lahirnya istilah Latte Factor tersebut.

Sementara dalam artikel sebelumnya saya membahas di Indonesia pun sekarang juga dimulai dengan adanya e-wallet factor. Apa itu e-wallet factor?

Secara sederhana adalah memulai kebiasaan berbelanja dengan menggunakan dompet digital sesuai dengan arahan pemerintah. Permasalahan yang muncul hampir sama dengan latte factor di mana orang-orang, di Indonesia, kemudian justru boros dalam membelanjakan uangnya karena factor kemudian bertransaksi dengan menggunakan dompet digital tersebut.

Bahkan transaksi toko online dan market place pun juga mempermudah proses pembayaran dengan menggunakan dompet digital ini.

Tulisan kali ini akan membahas kelanjutan dari e-wallet factor tadi, saya namakan dengan istilah cash-back factor. Yes, tidak bisa dipungkiri masyarakat di Indonesia dalam kurun waktu satu tahun terakhir sedang tergila-gila dengan yang namanya cash-back dari perbelanjaan mereka.

Cashback adalah sebuah bentuk promosi yang mengiming-imingi masyarakat untuk menggunakan dan berbelanja dengan menggunakan dompet digital, dengan memberikan iming-iming uang kembali (jadinya seperti diskon) kepada pengguna.

Pemberian promo ini dengan maksud agar orang mulai berubah gaya pembayaran uang mereka dari tunai dan transfer serta debit berpindah ke dompet digital. Pertanyaanya adalah apakah metode ini kemudian berhasil?

Fakta menyatakan dengan semakin banyak orang mengunduh aplikasi dompet digital menunjukkan minat orang belanja dengan metode ini juga meningkat. Saat ini ada 3 pemain dompet digital besar di Indonesia yaitu GoPay, Ovo dan Dana.

GoPay tidak bisa diukur karena system pembayarannya ada di dalam aplikasi Gojek. Sementara Ovo sudah memiliki lebih dari 10 juta pengunduh sementara Dana pun menyusul di belakangnya juga dengan lebih dari 10 juta pengunduh (angka pasti tidak diketauhi, angka di atas hanya diambil dari Google play per 4 November 2019).

Jadi bisa dibilang kampanye mereka sampai saat ini cukup berhasil. Tapi apakah seberhasil itu? Sementara banyak orang kemudian mengeluh bahwa mereka semakin boros dengan keuangannya karena mereka tidak tahu lagi ke mana uang mereka belanjakan khususnya yang sudah masuk ke dalam dompet digital mereka.

Padahal seperti yang kita ketahui bahwa mencatat pengeluaran akan sangat membantu dalam kita mengelola keuangan. Masalahnya banyak orang yang malas mencatat. – PT Kontak Perkasa

Sumber : detik.com