Alternatif Putar Uang Masa Kini – PT KP Press

PT KP Press – Risiko yang cukup besar menjadi alasan banyak orang enggan melakukan investasi di pasar saham. Namun, tak usah risau, menurut Founder Investor Muda Jason Gozali, mereka yang takut akan risiko dan pergerakan harga, masih ada instrumen lain yang lebih aman.
Jason menyebut instrumen itu adalah obligasi alias surat utang. Salah satu yang disarankan Jason adalah obligasi ritel Indonesia 17 seri ORI 17 yang baru saja dirilis pemerintah. ORI 17 juga dinilai bisa membantu pemerintah untuk mengatasi dampak ekonomi COVID-19.

“Kalau kita tipe konservatif dan takut pergerakan harga, bisa masuk obligasi pemerintah. Jadi kalau bingung, pemerintah sendiri sudah me-launching Obligasi Ritel Indonesia 17. Pemerintah butuh bantuan untuk atasi dampak ekonomi COVID-19,” ungkap Jason dalam talkshow bersama Gugus Tugas COVID-19 yang disiarkan di YouTube BNPB, Minggu (28/6/2020).

Jason memaparkan imbal hasil dari ORI 17 sebesar 6,4% per tahun. Surat Berharga Negara (SBN) edisi ini dinilai cocok bagi mereka yang menginginkan ‘kepastian’.

“Teman-teman bisa beli ORI 17, ini dikasih bunga kupon 6,4% per tahun, ini lumayan lah buat yang mau pasti-pasti aja,” papar Jason.

Dari catatan sebelumnya Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan akan menerbitkan SBN ritel seri ORI 17 pada 15 Juni 2020. SBN ritel ini bisa dibeli oleh seluruh masyarakat Indonesia dengan minimal pembelian sekitar Rp 1 juta.

Syarat dan ketentuan yang pasti memiliki kartu tanda penduduk (KTP) dan nomor pokok wajib pajak (NPWP). Pembelian bisa dilakukan secara elektronik atau online.

Meski begitu, Jason juga memberikan tips dan trik untuk bermain saham di tengah Corona. Apa saja?

Situasi pasar saham di tengah kondisi pandemi Corona dinilai Jason bisa menjadi peluang bagi para investor pemula. Pasalnya, banyak saham yang nilainya jatuh dan menjadi murah untuk dibeli para investor pemula.

Dia menilai krisis seperti ini tidak akan terjadi setiap waktu. Menurutnya, apabila membeli saham saat krisis seperti ini bisa menjadi peluang untuk menang banyak saat kondisi pulih dari krisis.

“Namanya krisis keuangan itu nggak datang setiap hari, itu hal langka dan tiba-tiba dan sesekali jangka panjang, 8-10 tahun. Jadi kalau kita beli pas krisis, peluang menang lebih besar daripada kondisi normal, karena harga saham, properti, berada di level lebih rendah,” ungkap Jason.

Dalam investasi saham di tengah kondisi pandemi, Jason memaparkan dua strategi. Pertama adalah membeli saham yang masih kuat, saham yang perusahaannya mampu bertahan di tengah Corona. Saham ini dinilai aman dan beresiko rendah, untuk itu harganya masih lumayan mahal.

“Secara garis besar ada dua strategi, beli aja saham yang bisnisnya nggak terdampak sama sekali sama COVID-19 misal perusahaan telekomunikasi atau makanan kayak Indomie. Cuma jangan harap diskon besar karena saham mereka cenderung aman sekarang,” ungkap Jason.

Kalau mau lebih untung, masuk ke strategi kedua, menginvestasikan saham di perusahaan yang bisnisnya benar-benar hancur karena Corona. Keuntungannya saham-saham seperti ini sangat murah untuk dimiliki, namun risikonya besar mengingat COVID-19 memberikan ketidakpastian.

“Kedua bisa cari saham yang bisnisnya benar-benar terdampak, kayak travel misalnya Garuda Indonesia, atau properti yang punya banyak mal, bisa juga ke ritel. Kan harganya jatuh luar biasa murah tuh,” papar Jason.

Hanya saja Jason mengingatkan, untuk strategi kedua investor mesti pandai memilih dan mencari informasi soal keberlangsungan perusahaan yang dibeli sahamnya. Apabila keuangan perusahaan tersebut cukup kuat bukan tidak mungkin selesai Corona investor bakal mendapat untung besar.

“Tinggal dipilih mana perusahaan yang terdampak setahun ke depan dengan asumsi nggak ada omzet perusahaan bisa bertahan. Nanti, ketika Corona pulih dan balik lagi normal, jadinya untung besar. Jadi kalau mau cari bisnis yang terdampak, cari yang pemegang sahamnya kuat, uangnya masih banyak,” jelas Jason. – PT KP Press

Sumber : detik.com