Driver Ojol Tolak Nadiem Jadi Menteri – PT KP Press

PT KP Press – Sejumlah calon menteri pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi) jilid II mulai tampak. Kemarin, Jokowi memanggil calon-calon tersebut untuk menghadap.

Dari sejumlah calon yang dipanggil, ada satu yang menarik perhatian. Ia adalah pendiri Gojek, Nadiem Makarim.

Nadiem menarik perhatian tak lepas dari perusahaan yang ia dirikan Gojek, di mana perusahaan itu telah menjelma sebagai decacorn yakni perusahaan dengan valuasi US$ 10 miliar atau setara dengan Rp 140 triliun (kurs Rp 14.000). Lalu, ia menjadi sorotan karena menjadi salah satu calon menteri muda Jokowi.

Namun, masuknya Nadiem ke daftar calon menteri mendapat penolakan. Penolakan itu datang dari para mitranya sendiri yakni sopir atau driver ojek online (ojol). Para driver bahkan mengancam akan menggelar aksi besar-besaran jika Jokowi menjadikan Nadiem sebagai menteri.

Ketua Presidium Nasional Gabungan Aksi Roda Dua (Garda) Garda Igun Wicaksono mengatakan, driver ojol akan demo besar-besaran jika Jokowi tetap menjadikan Nadiem sebagai menteri. Aksi itu akan digelar di seluruh Indonesia.

“Apabila akhirnya Presiden Jokowi tetap menunjuk Nadiem sebagai salah satu menteri ya kami mungkin bisa melakukan aksi penolakan, pergerakan dari seluruh Indonesia. Pastinya yang disasar Presiden Jokowi sendiri,” katanya, Senin (21/10/2019).

“Kita sudah peringatkan jangan tunjuk Nadiem kalau tetap menunjuk pasti akan pergerakan ojol di seluruh Indonesia, penolakan Nadiem,” ujarnya.

Igun menuturkan, saat ini dirinya sedang berkomunikasi dengan para driver yang lain. Dia menuturkan, aksi bisa digelar kapan saja, sebelum atau pun sesudah pengumuman menteri.

“Kami lagi konsolidasi dulu dengan temen-temen seluruh Indonesia, intinya kami akan penolakan. Konsolidasi dulu, apakah bisa sebelum pengumuman, sesudah pengumuman, atau saat pengumuman,” terang Igun.

Igun mengatakan, ada dua alasan para driver menolak Nadiem sebagai menteri. Pertama, kendati Nadiem sudah melepas jabatan di Gojek, ia masih tercatat sebagai pemilik bisnis. Artinya, Nadiem menikmati hasil dari Gojek.

“Karena Nadiem sebagai pendiri Gojek pemiliki bisnis Gojek walaupun secara struktural melepas jabatan-jabatannya di struktur manajemen Gojek, namun dia pemilik bisnis,” ujarnya.

Alasan kedua, dia menjelaskan, Nadiem sendiri besar karena mitra-mitranya. Padahal, mitra ini belum sejahtera karena pendapatan seperti bonus ini terpotong.

Dia mengatakan, selama ini Gojek terus berkembang dan hasilnya dinikmati oleh korporasi. Di sisi lain, para driver merasa sulit karena pendapatannya tergerus.

“Jangan dilihat startup decacorn si Nadiem namun harus mengkaji, di belakang ada mitra ojol yang belum sejahtera. Bagaimana mencoba dengan kompetensinya mensejahterakan rakyat Indonesia, apabila korporasi sendiri belum bisa mensejahterakan mitranya,” ungkapnya.

“Untung besar korporasinya namun bagi kami tidak sejahtera. Kami tidak harapkan untung besar namun pendapatan harusnya sesuai kerja kami di lapangan, itu dasar kami menolak,” terangnya.

VP Corporate Affairs Gojek Michael Reza Say menegaskan pihaknya menyambut positif pemanggilan Nadiem oleh Presiden Jokowi untuk masuk dalam kabinet. Dia bilang, Nadiem telah mendapat dukungan dari mayoritas mitra driver.

“Kami gembira dan bangga bahwa Nadiem telah dipanggil oleh Presiden untuk menjadi salah satu anggota kabinet yang baru. Kami juga senang telah menerima berbagai dukungan dari mayoritas mitra driver yang disampaikan di sosial media serta pesan-pesan dukungan masyarakat pada umumnya,” katanya dalam keterangan tertulis yang diterima.

Dia menambahkan Gojek selalu terbuka menerima masukan dari para mitranya.

“Gojek selalu terbuka menerima setiap masukkan dari mitra driver kami. Gojek juga telah menyediakan forum komunikasi rutin di semua area operasional kami,” tambahnya. – PT KP Press

Sumber : detik.com